Zakat dan Hukum Permintaan dan Penawaran

Suatu malam, saya sempat diskusi dengan beberapa sahabat lama di aplikasi WA (Whatsapp) tentang perbedaan antara keinginan dan kebutuhan di dalam Islam. memang benar, antara keinginan dan kebutuhan dalam Islam sangat jelas berbeda.

Secara konvensional, kebutuhan di bagi kepada tiga macam: Pertama Primer. Kebutuhan primer adalah kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan primer adalah kebutuhan yang sangat harus terpenuhi, artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka manusia akan mengalami kesulitan dalam hidupnya, seperti sandang, pangan dan papan. Kedua adalah kebutuhan sekunder. Kebutuhan Sekunder adalah merupakan jenis kebutuhan yang diperlukan setelah semua kebutuhan pokok primer telah semuanya terpenuhi dengan baik. Kebutuhan sekunder merupakan kebutuhan yang selalu ada di samping kebutuhan primer. Dengan kata lain, kebutuhan sekunder sifatnya tidak mendesak dan menunjang kebutuhan primer, pemenuhannya dapat ditangguhkan dan jika tidak terpenuhi tidak akan mengancam kelangsungan hidup manusia. Namun, meskipun begitu, kebutuhan ini sebisa mungkin tetap diusahakan untuk dipenuhi karena bila tidak terpenuhi kegiatan manusia akan terganggu.

Dan kebutuhan yang ketiga adalah Tersier. Kebutuhan tersier adalah kebutuhan yang hanya bisa dipenuhi dengan mengonsumsi benda yang tergolong mewah atau luks. Kebutuhan tersier atau kebutuhan ketiga merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi. Kebutuhan tersier muncul setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Karena itu kebutuhan tersier lebih bersifat prestisius. Artinya, orang yang dapat memenuhi kebutuhan ini akan terangkat derajat atau martabatnya. Kebutuhan ini biasanya hanya dapat dipenuhi oleh sebagian kecil masyarakat yang memiliki ekonomi biaya tinggi atau orang- orang kaya. Kebutuhan tersier bersifat hiburan atau kesenangan belaka. Kebutuhan ini tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia.

Secara Garis Besar, dalam konsep ekonomi konvensional kebutuhan dijabarkan dengan Utility (Kepuasan). Kepuasan ditentukan secara subyektif. Tiap-tiap orang memiliki atau mencapai kepuasannya menurut ukuran atau kriterianya sendiri. Suatu aktivitas ekonomi untuk menghasilkan sesuatu adalah didorong karena adanya kegunaan dalam sesuatu itu. Jika sesuatu itu dapat memenuhi kebutuhan, maka manusia akan melakukan usaha untuk mengkonsumsi sesuatu itu seperti memiliki  barang/jasa untuk memuaskan keinginan manusia.

Dalam perspektif ekonomi syariah, kebutuhan di tentukan oleh konsep maslahah. Pembahasan konsep kebutuhan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari kajian perilaku konsumen dari kerangka maqasid syari’ah (tujuan syari’ah). Tujuan syari’ah harus dapat menentukan tujuan perilaku konsumen dalan Islam. Tujuan syari’ah Islam adalah tercapainya lesejahteraan umat manusia (maslahat-al-ibad). Oleh karena itu, semua barang dan jasa yang dimiliki maslahah akkan dikatakan menjadi kebutuhan manusia. Walaupun demikian, Islam tetap melarang adanya aktivitas konsumtif yang berlebihan.

Lalu timbul pertanyaan, bagaimana bisa konsep kebutuhan dalam Islam yang dibatasi dengan adanya larangan berlebih-lebihan dapat memacu permintaan dan penawaran dalam sisi ekonomi? bukankah dengan adanya pembatasan itu akan mengurangi permintaan akan suatu barang/ jasa? Lalu bagaimana penyerapan tenagakerja oleh produsen jika permintaan atas barang dan jasa tersebut dibatasi oleh larang tersebut? bukankah terjadi penurunan pendapatan (bahkan beresiko kerugian) para produsen dan akan terjadi pengurangan tenaga kerja?

Secara sepintas lalu dan sesuai dengan hukum permintaan itu semua benar. Dimana, jika permintaan tinggi, maka harga akan barang dan jasa pun akan ikut naik, Produksi akan bertambah, pendapatan produsenpun akan naik, penyerapan tenaga kerja akan bertambah. begitu juga sebaliknya.

Lalu solusinya dalam Islam bagaimana? Salah satu solusinya adalah Zakat. Kenapa harus zakat?

Untuk menjawab ini, maka kita harus memahami konsep harta dalam Islam. Dalam Islam konsep harta adalah Flow Concept. Dimana ia harus terus mengalir, dan tidak boleh tertumpuk pada suatu tempat. berbeda dengan konsep harta dalam konvensional, dimana harta di artikan dengan Stock Concept harta boleh berkumpul pada suatu tempat.

Memandang harta sebagai flow concept, dimana ia harus terus mengalir, maka Zakat adalah salah satu instrumen penyaluran konsep tersebut, dimana harta akan mengalir dari Muzakky (wajib zakat) kepada Mustahiq (penerima zakat – orang tidak mampu – asnaf 8).

Jika makin banyak mustahiq yang menerima zakat dari para muzakky untuk memenuhi kebutuhannya, maka permintaan akan barang dan jasa akan bertambah. Jika permintaan naik, harga akan naik, keuntungan produsen akan bertambah, dan tenaga kerja akan banyak terserab. Maka, tidak akan gangguan dalam hukum permintaan dan penawaran. karena perekonomian akan tetap stabil.

Wallhualam Bissawab

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s