Kartu Kredit Syariah

hari ini, dan hari-hari sebelumnya, mengingatkan aku pada masa kuliah dulu. sempat berdebat dengan dosen dan teman-teman terkait suatu permasalahan komtemporer dan saat ini juga sering di pertanyakan banyak orang kepada saya tentang “kartu kredit syariah”

pertanyaan yang sering muncul adalah “apakah di bank tempat saya bekerja ada kartu kreditnya” atau “kenapa bank syariah tempat saya bekerja tidak ada kartu kredit syariah nya, sedangkan di salah satu bank syariah ada kartu kreditnya” pertanyaan yang simple sebenarnya, namun untuk memberikan jawaban yang simple, tentu tidak mudah.

pada dasarnya, istilah kredit tidak sesuai dengan bank syariah. karena pada dasarnya “credit” memiliki makna dengan memberikan fasilitas pinjaman kepada pihak tertentu dengan tingkat bunga tertentu sebagai dasar untuk mengambil keuntungan”.  jelas istilah ini bertentangan dengan konsep syariah. dimana proses pengambilan keuntungan tidak dengan bunga, melainkan dengan konsep-konsep dasar jual beli (murabahah), konsep bagi hasil/ keuntungan/ pendapatan (mudharabah dan musyarakah), keuntngan yang di ambil dengan konsep sewa menyewa (ijarah), dan beberapa konsep lainnya, tergantug jenis akad dan skema yang digunakan.

menilik pada penggunaan istilah kartu kredit syariah, menurut pandangan saya, penggunaan istilahnya kurang tepat karena alasan di atas. kalau begitu, bagaimana istilahnya kita tukar dengan istilah yang lebih syariah seperti ijarah card, mudharabah card atau istilah-istilah syariah lainnya atau yang lebih simpel sharia card? untuk nama produk mungkin saja bisa. tergantung dengan akad dan skema yang di gunakan.

misalkan saja, produk tersebut kita namakan dengan sharia card. pihak bank memberikan fasilas penggunaan sejumlah dana kepada nasabah, untuk kemudian diambil keuntungannya dari jenis transaksi yang di lakukan nasabah. jika nasabah menggunakan kartu tersebut untuk belanja, maka pihak bank akan memberlakukan skema murabaha. dan jika kartu tersebut digunakan untuk pembayaran sewa kamar hotel, maka skema yang berlaku adalah ijarah. atau dengan skema pembiayaan lainnya yang relevan dengan kebutuhan nasabah.

sampai di sini untuk memberlakukan skema syariah mungkin bisa di lakukan. dan kita sudah bisa berbelanja dengan fasilitas syariah tersebut. namun, permasalahan masih muncul dari sisi kesempurnaan akad. untuk akad murabaha (jual beli) misalnya, syarat dan rukun jual beli harus terpenuhi. jika syarat dan rukun sudah terpenuhi, maka ia tidak akan menjadi masalah. permasalahan akan timbul jika si nasabah melakukan pembelian barang haram dengan kartu tersebut. berarti pihak bank lah yang menjual barang haram tersebut kepada si nasabah. karena yang berlaku adalah skema murabaha dengan akad jual beli. jika hal itu terjadi, dan pihak bank mengambil keuntungan dari transaksi tersebut, maka keuntungan tersebut bisa kita katakan tidak halal. dan keuntungan yang tidak halal tersebut kemudian di satupadukan dengan keuntungan yang halal, kemudian total keuntungan tersebut akan di sharing kepada nasabah pemilik dana. wal hasil, cacatlah kesyariahan bank. karena keuntungan yang sesuai dengan syariah, haruslah yang halal, dan bukan dari penjualan barang haram.

memang benar, dalam beragama islam, ibda’ binnafsi berlaku. terpulang kepada si pemiliki kartu tersebut. namun tidak ada jaminan jika umat islam pengguna kartu tersbut hanya melakukan transaksi yang halal.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s