Hukum Transaksi Valuta Asing dalam Islam

Di dalam Islam, istilah tukar menukar uang antara dua negara atau lebih dikenal dengan istilah Al-Sharf. Di dalam kamus Munjid Fi Al-Lughah, Al-Sharf diartikan dengan menjual uang dengan uang lain.[1] Hal ini senada dengan pendapat Muhammad al-Adnani yang menyatakan bahwa al-sharf adalah tukar menukar uang.[2] Berbeda dengan al-Adnani, Taqyuddin an-Nabhani menyatakan bahwa al-sharf  adalah memperoleh harta dengan harta yang lain dalam bentuk emas dan perak yang sejenis, dengan menyamakan antara emas yang satu dengan emas yang lain atau antara perak yang satu dengan perak yang lain (atau berbeda jenisnya).[3]

Dari tiga pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa al-sharf adalah aktivitas tukar menukar mata uang yang senilai, atau yang disamakan nilainya melalui aktivitas permintaan dan penawaran atas mata uang tertentu terhadap mata uang tertentu.

Praktek Al-Sharf  hanya terjadi dalam transaksi jual beli, di mana praktek ini diperbolehkan dalam Islam. Pembolehan itu berdasarkan kepada firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 275:

…وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “dan Allah telah menghalalkan Jual beli dan mengharamkan riba”

 

Di samping firman Allah di atas, hadis Rasulullah juga menyatakan:

a.              “Janganlah engkau menjual emas dengan emas, kecuali seimbang dan jangan pula engkau menjual perak dengan perak kecuali seimbang. Jualah emas dengan perak atau perak dengan emas sesuka kalian” (HR. Bukhari)

b.             “Kami telah diperintahkan untuk membeli perak dengan emas sesuka kami dan membeli emas dengan perak sesuka kami. Abu Bakrah berkata: Beliau (Rasulullah) ditanya oleh seorang laki – laki, lalu beliau menjawab: “Harus Tunai” kemudian Abi Bakrah berkata: “demikianlah yang aku dengar”

Dari hadis di atas dapat di pahami bahwa hadis pertama merupakan dalil diperbolehkannya al-sharf serta tidak boleh adanya penambahan antara suatu barang yang sejenis (emas dengan emas atau perak dengan perak), karena kelebihan antara dua barang yang sejenis tersebut merupakan riba al-fadl yang jelas – jelas dilarang dalam Islam. Sedangkan dari hadis kedua selain dapat di jadikan landasan memperbolehkan praktek al-sharf, juga mengisyaratkan bahwa kegiatan jual beli tersebut harus dalam bentuk tunai, yaitu untuk menghindari terjadinya riba nasi’ah.

Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa jual beli mata uang (valuta asing) itu harus dilakukan sama – sama tunai serta tidak melebihi antara suatu barang dengan barang yang lain dalam mata uang yang sejenis. Begitu juga dengan pertukaran mata uang yang berbeda, hukumnya mubah. Bahkan tidak ada syarat harus sama atau saling melebihkan, namun hanya disyaratkan tunai dan barangnya sama – sama ada.

Kebolehan melakukan transaksi valuta asing di atas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dituangkan ke dalam fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 28/DSN-MUI/III/2002 yang menyatakan bahwa transaksi mata uang boleh dengan ketentuan sebagai berikut:[1]

a.       Tidak untuk spekulasi

b.      Ada kebutuhan transaksi atau berjaga – jaga

c.       Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai

d.      Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) pada saat transaksi dan secara tunai.

Selain beberapa ketentuan di atas, MUI juga menghalalkan Transaksi SPOT dan mengharamkan transaksi lain seperti FORWAD, SWAP, dan OPTION.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s