KEUANGAN SYARIAH DAN KRISIS EKONOMI

Majunya industri keuangan syariah dan inovasi produk keuangan syariah sesungguhnya bukanlah hal baru. Sejarah membuktikan bahwa pada masa kejayaan Islam, industri keuangan syariah ternyata juga ikut berkembang pesat dengan salah satu ujung tombaknya, jahbadh, yang merupakan embrio dari bank syariah.  Menurut sejarawan asal Persia, Nasir-i Khusraw, di Kota Isfahan, tercatat telah ada sekitar 200 jahbadh. Kota Basra bahkan menjadi pusat keuangan dunia yang oleh Gene W Heck (2006) disebut sebagai ”Wall Street of the Middle Ages” atau Wall Street di Abad Pertengahan.

Pertumbuhan yang cepat dari jahbadh dan kompleksitas aktivitas masa keuangan diikuti dengan inovasi produk keuangan, semisal sakk (cek), suftaja (L/C), hawala, dan  ruq’ah (semacam promissory notes). Seiring dengan itu Pemerintahan Abbasiyah sekitar tahun 928-an Masehi merasa perlu mendirikan bank sentral yang dinamakan diwan al-jahbadhah.

Seakan mengulangi siklus sejarah, saat ini industri keuangan syariah dunia yang menurut estimasi Financial Times mencapai pertumbuhan 10-15 persen per tahun, juga tengah menikmati status sebagai primadona di tengah gejolak ekonomi dunia yang makin tak tentu arah. Tidak bisa dimungkiri, menjamurnya institusi keuangan syariah disertai dengan inovasi produk-produk keuangan syariah merupakan pertanda semakin digemarinya bisnis dengan berlandaskan nilai-nilai syariah ini.

Di beberapa negara Eropa, seperti Inggris dan Prancis, kata ‘Islamic finance’ sudah tidak terlalu asing lagi di kalangan pebisnis dan akademisi kampus. Sejumlah bank di Inggris, seperti HSBC, Llyod, dan Barclay Bank bahkan ikut membuka semacam unit usaha syariah. Menariknya, tidak hanya untuk konsumen Muslim, tapi juga non-Muslim.

Tidak hanya itu, Kementerian Ekonomi Inggris pun telah membentuk unit kerja ‘Islamic finance’, terdiri atas kumpulan akademisi dan praktisi bisnis syariah yang salah satu tugasnya adalah memberikan masukan kepada pemerintah terhadap hal-hal yang berkaitan dengan keuangan syariah. Di Prancis perlahan tapi pasti pemerintah mulai merevisi undang-undang yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi sebagai langkah untuk memfasilitasi kegiatan bisnis dan perdagangan berlandaskan syariah.

Dalam tataran praktis, financial engineering menjadi sebuah metode untuk memproses dan memodifikasi produk keuangan syariah sehingga memenuhi kebutuhan pasar, tetapi tetap berlandaskan nilai syariah. Tidak heran  produk keuangan syariah mengalami perkembangan cukup pesat, baik dalam jumlah maupun jenis.

Akar krisis
Seperti sudah kita ketahui bersama, akar krisis ekonomi ini bermula di Amerika Serikat akibat kredit macet perumahan dari orang-orang yang sebenarnya tidak layak diberikan pinjaman perumahan. Oleh karenanya, mereka dikategorikan sebagai sub-prime.

Utang orang-orang yang jauh dari kriteria credit worthiness ini kemudian diolah dan diperjualbelikan lagi kepada pihak ketiga, keempat, dan seterusnya dalam bentuk CDO (collaterized debt obligation) sampai tidak bisa teridentifikasi secara jelas struktur risiko dari instrumen keuangan tersebut.

Di sisi lain, kondisi ini diperburuk dengan semakin masifnya jumlah transaksi short selling, di mana penjual produk derivative secara ugal-ugalan memperjualbelikan sesuatu yang bukan menjadi hak miliknya. Inilah yang menjadi salah satu alasan jatuhnya Lehmans dan anjloknya harga saham dari salah satu institusi keuangan ternama dunia, HBOS.

Merespons kejadian ini, Bank of England dan Federal Reserve AS, sempat menyetop transaksi short selling ini secara sementara. Lalu, bagaimana pandangan keuangan syariah atas krisis yang terjadi?

Tentu saja analisis terhadap krisis ekonomi yang terjadi belakangan ini bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang. Namun, ada beberapa rambu-rambu syariah terkait dengan uraian di atas yang bisa dipaparkan di sini.

Rambu pertama, bahwasanya jual beli utang tidak diperbolehkan. Apalagi jual beli uang karena uang bukan komoditas dan hanya bisa digunakan sebagai alat tukar atau alat ukur nilai suatu komoditas. Utang hanya boleh diperjualbelikan jika sesuai dengan par value, tidak boleh lebih atau kurang karena kekurangan atau kelebihannya akan menyebabkan riba.

Rambu kedua, jual beli harus atas sesuatu yang menjadi hak milik. Pelanggaran terhadap prinsip ini akan mendorong tindakan spekulatif secara berlebihan yang berakibat pada ketidakstabilan sistem keuangan. Maka dari itu, transaksi short selling tidak mendapat tempat dalam keuangan syariah.

Rambu ketiga, setiap transaksi bisnis harus selalu terkait dengan usaha riil. Artinya, syariah tidak memfasilitasi pengembangbiakan uang yang berasal dari uang atau utang.

Dalam kasus kredit perumahan di atas, sering kali bank memberikan pinjaman jauh melebihi nilai riil rumah dengan bunga tetap yang kemudian dikonversi menjadi bunga tidak tetap. Ketika tingkat suku bunga naik dan nilai rumah turun, sudah bisa ditebak, debitur semakin tidak mampu membayar yang berakibat pada banyaknya kredit macet.

Model seperti ini tidak difasilitasi dalam keuangan syariah. Untuk itu keuangan syariah memberikan setidaknya tiga alternatif pembiayaan.

Model pertama, bank membeli rumah dan kemudian menjualnya kembali kepada nasabah. Nasabah dapat membayar angsuran yang nilainya tetap sampai pelunasan utang.

Model kedua, bank dan nasabah secara berserikat membeli rumah sehingga rumah menjadi milik bersama antara bank dan nasabah. Secara berkala nasabah membayar sewa kepada bank atas persentase yang bukan menjadi hak miliknya.

Sebagian porsi pembayaran juga bisa dipakai untuk membeli kepemilikan bank atas rumah sehingga pada akhirnya rumah dimiliki sepenuhnya oleh nasabah. Model ketiga, rumah yang sudah dimiliki oleh bank disewakan kepada nasabah dengan memberikan opsi pembelian pada akhir kontrak. Besarnya porsi pembelian bisa disesuaikan dengan jumlah uang sewa yang telah dibayarkan kepada bank sebagai pemilik properti/rumah.

Setiap kejadian selalu memberikan pelajaran (ibrah) terutama bagi orang-orang yang berpikir. ”Laksana siang dan malam, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai pemahaman”. Demikian bunyi firman Allah SWT dalam Alquran surat 24:44.

Sentilan Allah SWT berupa krisis ekonomi yang terjadi saat ini barangkali masih merupakan early reminder sebelum menuju jurang yang lebih dalam lagi. Tragedi ini bisa dijadikan pelajaran bahwa inilah akibatnya jika prinsip-prinsip ilahiyah telah dilanggar.

Krisis sudah terjadi, tuntunan ilahi sudah di depan mata. Masih maukah kita terperangkap ke dalam lubang lama yang sama? Sudah saatnya kita lebih bersungguh sungguh dalam berekonomi secara syariah.

tulisan ini ditulis oleh: Hylmun Izhar (Kandidat Doktor Ilmu Keuangan Syariah Durham University, Inggris, dan Dosen STEI SEBI)

2 responses to “KEUANGAN SYARIAH DAN KRISIS EKONOMI

  1. Kredit macet di Amerika disebabkan karena naiknya suku bunga kredit dari 1% ke 5%, jadi nasabah nggak mampu bayar kreditnya.

    Iya kan pak?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s