MENUJU MASYARAKAT PROFETIK

Kesadaran adalah hal harus ada dalam jiwa manusia. Karena dari kesadaranlah sebuah perubahan di mulai. Tanpa kesadaran, tidak akan di kenal adanya Jihad Fi Sabillah, Reformasi dan lain sebagainya.

Mencari orang –orang yang sadar adalah hal yang sangat mudah. Yang sulit adalah mencari orang – orang yang memiliki kesadaran. Karena kesadaran tidak mudah di miliki dan tidak sembarang orang yang dapat memilikinya. Perlu pemikiran yang jernih dan objektif untuk dapat meraih kesadaran. Untuk membuktikan ini, dapat kita kemukakan contohnya seperti koruptor. Para pelaku korupsi ini sadar apa yang mereka lakukan. Mereka sadar telah mengambil dan menerima uang dalam jumlah yang besar, namun mereka tidak sadar bahwa yang diambil adalah uang rakyat. Itulah alasannya kenapa mencari orang yang memiliki kesadaran sangat sulit.

Koruptor adalah bagian integral dari negara ini. Mereka tumbuh dan berkembang dari hasil bumi pertiwi. Mereka adalah kaum intelektual yang juga di-wisuda oleh beberapa perguruan tinggi di nusantara. Para koruptor tersebut juga menyandang gelar sarjana.

Selama di kampus, para calon sarjana sadar bahwa mereka adalah agent of change. Selepas dari kampus, mereka tidak memiliki kesadaran untuk melakukan perubahan sosial di dalam masyarakat. Mereka sadar bahwa mereka adalah sarjana, namun kesarjanaan itu tidak memiliki kesadaran untuk melakukan apapun guna merubah masyarakat. Yang ada di dalam pikirannya hanya bagaimana mendapatkan kerja. Tidak ada lagi pikiran bagaimana mengurangi pengangguran seperti yang mereka tuntut selama ini. Tidak ada lagi pemikiran mengayomi fakir miskin dan lainnya.. Yang ada hanya bagaimana mendapatkan kehidupan yang layak. Untuk itu, semua cara dilakukan, mulai dari yang baik – baik sampai menjadi maling. Singkatnya mereka sadar bahwa mereka sarjana, namun kesarjanaan mereka tidak membuat mereka sadar (memiliki kesadaran) untuk melakukan perubahan.

Terpuruknya perekonomian Indonesia dari tahun 1997 sampai sekarang adalah bukti dari ketidaksadaran para sarjana. Satu lagi bukti dari ketidaksadaran mereka adalah masuknya Indonesia kepada 5 negara ter-korup di dunia. Sebuah prestasi yang luar biasa yang dipersembahkan oleh para sarjana yang kehilangan kesadarannya.

Dalam pembukaan muktamar salah satu organisasi mahasiswa di Indonesia beberapa tahun yang lalu, Wakil presiden republik Indonesia, M. Yusuf Kalla pernah berkata “Negara Ini Maju Karena Mahasiswa, Negara Ini Hancur Juga Karena Mahasiswa”. Artinya adalah, majunya negara ini karena mahasiswa. Mahasiswa yang ketika tamat masih memiliki kesadaran. Negara ini hancur karena mahasiswa yang tamat meninggalkan kesadaran mereka di kampus. Kesadaran akan Aktor perubahan hanya menjadi pembicaraan ketika menjabat sebagai pejabat di BEM, Senat Mahasiswa dan lain sebagainya, hanya untuk mendapat sesuatu, apakah itu ketua BEM, UKM dan lain sebagainya, tujuannya hanyalah popularitas dan apalagi kalau bukan SKEK dan politik kampus yang kotor.

Perkataan orang nomor Tsani di Nusantara ini ada benarnya. Pasalnya, krisis multi dimensi yang sudah melanda Indonesia murni kesalahan para sarjana. Kenapa harus sarjana? Karena merekalah kaum intelektual yang diharapkan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Berawal dari tahun 1997, di mana Indonesia harus membayar hutang luar negeri yang sudah jatuh tempo dengan jumlah yang besar. Namun yang terjadi adalah adanya defisit anggaran untuk membayar utang. Uang yang seharusnya dibayarkan ke utang malah menjadi pembayaran rekening pribadi di bank swiss oleh sebagian pejabat Indonesia. Di tambah lagi peraturan BI sebagai otoritas tertinggi perbankan di Indonesia yang mengizinkan pendirian bank swasta dengan modal di bawah 500 Juta pada tahun 1992 yang mengakibatkan banyaknya bank yang dinyatakan ter-likuidasi akibat tidak mampu mengembalikan uang masyarakat yang dikarenakan banyaknya kredit macet dalam kurun waktu lima tahun. Keadaan ini diperburuk dengan adanya kebijakan moneter bank Indonesia dengan menaikkan tingkat suku bunga dengan tujuan merangsang pertumbuhan ekonomi. Yang terjadi malah menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika turun drastis hingga mencapai Rp. 15.000 per USD. Akibatnya adalah inflasi yang hampir menyentuh angka 45 %. Pada era inilah krisis moneter di mulai.

Krisis diatas telah membuahkan sebuah krisis multidimensi pada saat ini. Di mana Indonesia masih kekurangan dana (modal) untuk melakukan investasi dalam negeri. Penyebabnya adalah berkurangnya tabungan masyarakat. Hal ini dikarenakan berkurangnya kepercayaan terhadap bank. Selain berkurangnya kepercayaan, pendapatan perkapita masyarakat rendah. Hal ini sebagai akibat kurangnya produktivitas masyarakat karena banyaknya pengangguran dan bertambahnya angka kemiskinan.

Fenomena di atas seharusnya tidak terjadi jika para sarjana yang pada notabenenya adalah kaum intelektual Indonesia memiliki kesadaran atas nasib bangsa. Dan jika Para pengambil kebijakan yang juga para sarjana tidak mementingkan kebijakan untuk diri sendiri dengan menggunakan uang negara untuk rekening pribadi.

Untuk keluar dari masalah yang sudah mendunia ini, maka para sarjana seharusnya tidak meninggalkan kesadaran mereka di kampus. Kesadaran sebagai aktor perubahan sosial adalah kesadaran yang abadi yang harus tetap melekat dalam jiwa para sarjana. Kita harus belajar dari pelajar dan mahasiswa barat ketika Andalusia masih dikuasai Islam. Kesadaran akan perubahan sosial tidak mereka tinggal di kampus, tetapi mereka bawa pulang untuk memajukan kampung halaman yang masih terbelakang dengan cara mengayomi dan membimbing masyarakat ke arah yang lebih baik, rapi dan teratur. Akibatnya adalah terciptanya masyarakat yang profetik. Sebuah masyarakat yang selalu berkarya, sehingga karya mereka selalu di kenang sepanjang zaman.

Para sarjana sekarang banyak terbentur dengan pertanyaan “harus dimulai dari mana?”. Pertanyaan ini lazim kita dengar. Namun itu salah. Pertanyaan yang harus di ungkapkan adalah “kita punya apa?” baru kemudian kita pertanyakan “harus dimulai dari mana?”. Kalau para kita punya uang yang cukup untuk modal, maka kita mulai dari membuka usaha yang dapat menampung para pengangguran. Tapi jika kita tidak memiliki dana untuk itu (Cuma modal dengkul dan otak saja), kita bisa menjalankan bisnis dengan prinsip – prinsip ekonomi syariah dengan akad syirkah (kerjasama dalam suatu usaha) dan akad lainnya yang kemudian akan menyedot tenaga kerja dan juga dapat mengurangi pengangguran di persada nusantara ini.

Hasil yang di capai dengan kesadaran seperti ini adalah hasil dalam jangka panjang. Masyarakat akan terus berkarya. Hasilnya adalah masyarakat profetik terbangun di Indonesia yang secara tidak langsung akan membentuk masyarakat madani, sejahtera, adil dan tenteram yang kita cita – citakan selama ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s