DOSA INTELEKTUAL PARA INTELEK

Kemajuan umat Islam pada masa lalu cukup membuat semua orang di muka bumi ini berdecak kagum. Puja dan puji selalu mengalir. Namun itu hanya sebatas pujian dan tentu saja dengan sebuah semangat yang akan terus mengalir dan tanpa keimanan. Semangat itu adalah semangat yang lahir dari jiwa – jiwa yang ingin maju.

Kalau kita lihat sejarah, ketika dunia Islam sudah mampu menata kota dengan baik dan menggunakan arsitektur yang menawan, dunia barat malah sebaliknya. Tatanan kota tidak teratur, kumuh dan jorok serta jauh dari sebutan “Pemukiman layak huni”.

Sadar akan kekurangan dan ketinggalannya, maka dunia barat selalu menguntit kemajuan dunia Islam . Yang sering di ikuti adalah dunia pendidikan. Pada saat Thariq bin Ziad menaklukkan Andalusia atau yang kita kenal dengan sebutan Spanish alias Spanyol pada masa sekarang, universitas Islam pun didirikan. Sangat banyak pemuda barat yang belajar di sana. Tentunya mereka (pemuda barat) tidak memiliki keinginan lain selain keinginan untuk maju. Jiwa mereka terasa terpanggil untuk melakukan perubahan di kampong halamannya.

Ada suatu hal yang unik dan patut kita perhatikan dan mungkin sangat jarang atau bahkan tidak pernah kita pikirkan, ia adalah “semangat yang mereka miliki ternyata tidak diikuti dengan keimanan kepada Tuhan yang satu (ALLAH)”. Mereka tetap menganut agama mereka sebagai jalan hidup. Bagi mereka yang terpenting adalah kemajuan kampung halaman. Mereka bahkan tidak merasa jijik untuk bekerjasama dengan pelajar – pelajar Islam dalam menuntut ilmu. Perbedaan ideology mereka kesampingkan. Yang penting mereka dapat menimba ilmu di negeri Islam . Sekali lagi, tanpa kepercayaan pada Tuhan yang satu.

Ketika perang salib berkcamuk, buku – buku para pemikir Islam dimusnahkan. Para ulama dan guru di bunuh, wanita – wanita diperkosa sebelum di bunuh, anak – anak dibantai dan laki – laki pun sama. Suasana politik Islam menjadi kacau, perekonomian menurun drastic dan kota – kota Islam hancur berantakan berikut dengan masjid yang tukar menjadi gereja dan pengambilalihan universitas – universitas Islam.

Dalam suasana seperti ini, umat kehilangan arah. Tempat bertanya tidak ada lagi. Buku – buku yang biasa di jadikan rujukan telah musnah, yang tinggal hanya kehampaan dan kebingungan harus berbuat. Dalam suasana seperti ini timbullah tokoh intelektual Islam yang kemudian di jadikan sebagai rujukan, tempat bertanya dan lain sebagainya. Pengaruh yang diberikan oleh pemikir – pemikir tersebut cukup signifikan dan sangat di terima oleh umat. Karena memang tidak ada lagi rujukan yang dapat di jadikan bahan untuk komparasi tentang pemikiran tokoh – tokoh tersebut.

Apakah kesalahan metode yang digunakan oleh para intelek Islam pada masa itu, atau memang ia menginginkannya atau tidak menginginkannya, tetapi kebudayaan baru telah lahir dari dunia Islam . Sebuah kebudayaan yang selalu mempercayai paham satu mazhab dan tidak mau menerima mazhab yang lain, bahkan mazhab yang tidak sesuai dengan mazhab yang dianutnya kemudian dianggap kafir. Kebudayaan itu bernama “TAQLID”.

Budaya inilah yang kemudian melahirkan paham baru dalam dunia Islam . Sebuah paham yang hanya menganggap bahwa mazhabnya yang paling benar sedangkan mazhab yang lainnya dianggap salah. Muhammad Abduh mengistilahkan paham ini dengan istilah “JUMUD”. Karena masa – masa ini, ilmu pengetahuan yang dianggap penting hanya ilmu akhirat, dan siapa yang belajar ilmu dunia, maka dianggap salah. Paham inilah yang kemudian mengakibatkan menurunnya kualitas keilmuan umat Islam . Ketika bangsa Inggris telah menemukan mesin untuk percetakan buku, umat Islam masih menggunakan teknik manual untuk membuat sebuah buku. Inilah salah satu alasan mengapa Muhammad Abduh sangat menentang paham jumud ini. Singkat kata, paham ini adalah paham yang menjadikan kefakuman pergerakan Islam . Padahal Sayyid Quthb mengatakan “ruh Islam adalah pergerakan

Kalau kita analisa dari jauh, maka yang kita temukan adalah keburaman dari sejarah. Kejayaan dan kemajuan Islam yang selalu ditonjolkan yang memperkecil kemungkinan untuk kita menilai dan mengenal keburukan para tokohnya. Begitu banyak sisi buruk para intelektual Islam yang tidak di pelajari atau memang sengaja dihilangkan. Contohnya adalah para ulama Islam yang terlebih dahulu mengembangkan Taqlid yang kemudian berkembang menjadi paham Jumud di dalam Islam . Kebodohan dan keterbelakangan adalah hasil jangka panjang dari pemikiran intelek tersebut.

Entah siapa yang memulai lahirnya budaya taqlid ini. Tetapi budaya ini cukup mengakar dalam fikiran umat Islam sampai saat ini. Sehingga untuk merubahnya perlu dilakukan evolusi pemikiran. Kenapa harus evolusi? Karena tidak mungkin memaksa atau merubah pemikiran manusia hanya dengan beberapa stegment dengan waktu yang singkat.

Mengikapi perlunya evolusi pemikiran ini, para tokoh Islam modern abad ini telah melahirkan berbagai strategi dan beberapa tulisan tentang pembaharuan Islam . Beberapa metode sudah disiapkan. Beberapa strategi sudah pula disempurnakan. Namun sayangnya, ketika pemikiran itu hadir di permukaan, yang menentang malahan umat Islam sendiri. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah Liberal dan Sekuler.

Beberapa pemikiran yang mungkin cukup merangsang otak dan emosi sudah di cap sebagai pemikiran liberal atau sekuler. Contohnya adalah pemikiran yang tidak berlandaskan pada mazhab (di dalam Islam mazhab ada 4, (1) Syafii, (2) Hambali, (3) Maliki, (4) Hanafi) oleh sebagian ulama di dunia atau di Indonesia serta pengikut – pengikut mazhab tersebut telah memasang label KAFIR terhadap pemikiran yang bisa dikategorikan baru tersebut. Contoh di atas adalah salah satu kasus yang sampai saat ini masih berkembang, masih banyak lagi kasus – kasus yang serupa.

Menurut Tan Malaka dalam bukunya Massa Aksie, otak manusia Indonesia itu sudah bercampur – campur pemahamannya. Pemahaman di sini adalah pemahaman tentang agama, di mana umat Islam dalam pemahamannya tentang ke-Islam an sudah bercampur baur dengan kebudayaan hindu, budha, Kristen dan lain sebagainya. Sehingga menurut Tan Malaka, untuk memerdekakan pemikiran manusia Islam perlu dilakukan reorientasi tentang Islam dengan cara melakukan evolusi pemikiran. Karena menurutnya, merubah pemikiran manusia lebih sulit dari pada merebut kemerdekaan RI dari Belanda.

Menilik kepada pendapat Tan Malaka tersebut, maka pencapan kafir terhadap pemikiran Islam yang baru seperti yang diuraikan sebelumnya adalah karena manusia Islam belum utuh menggunakan Islam sebagai pandangan hidupnya. Di beberapa daerah masih ditemukan ritual – ritual yang berbau Hinduisme yang dikaitkan dengan Islam oleh mereka yang mengaku muslim. Dan herannya adalah mengapa para ulama tidak berkomentar terhadap hal yang jelas – jelas mengandung Bid’ah dan merusak aqidah tersebut. Selain itu, masyarakat Islam Indonesia belum mampu untuk menerima pemikiran baru yang sangat menantang kemampuan keilmuan dan emosional tersebut. Hal ini dikarenakan tidak lain dan tidak bukan adalah karena paham jumud telah lama tertanam di dalam otak manusia Islam .

Apapun kondisi Islam pada saat ini, maka para tokoh intelek terdahulu telah menginggalkan dosa intelektual pada saat ini. Sebuah dosa yang berakibat buruk dalam jangka panjang. Akibat dosa intelektual yang mereka perbuat, Islam sangat sulit berkembang dari segi intelektual pada abad modern ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s