APA KABAR REFORMASI???

Sejak tahun 1998, bulan Mei akan selalu menjadi bulan yang amat keramat bagi rakyat Indonesia. Dimana dimulainya aksi reformasi oleh para mahasiswa se-nusantara dengan menuntut turunnya presiden ke dua sekaligus diktator RI, Soeharto. Begitu banyak yang harus di korbankan demi tegaknya reformasi. Tidak hanya harta dan benda, tetapi nyawapun disumbangkan untuk perjuangan yang berujung pada kemajuan bangsa.

10 tahun sudah reformasi kita capai. Banyak perubahan yang terjadi, baik secara politik, ekonomi dan lain sebagainya. Namun, perubahan demi perubahan tidak diiringi dengan sistem yang baik. Akibatnya, tujuan reformasi tahun 1998 sampai hari ini belum tercapai.

Ada beberapa faktor yang membuat perjalanan reformasi di Indonesia terasa stagnan alias mati suri. Diantaranya:

1. Faktor Pemerintah

Dalam tataran teoritis, tawaran pemerintah untuk memperbaiki kondisi indonesia sangat baik. Konsep – konsep itu terkesan elegan, dan menjanjikan perubahan yang signifikan. Tetapi itu hanya sebatas konsep. Dalam tataran praktis, tampaknya indonesia belum siap untuk menjalankan konsep yang dibuatnya sendiri. Sangat sedikit dari pejabat yang mampu menjalankan konsep yang ditawarkannya. Penyebabnya sangat banyak sekali. Tetapi yang jelas, para pejabat bangsa ini hanya baru mampu memberikan janji dan sedikit menunjukkan aksi.

Hal serupa tidak ditemui pada saat rezim Alm. Soeharto berkuasa. Kemajuan dari segi pembangunan, pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya telah membuat bangsa ini menjadi salah satu bangsa yang di segani oleh dunia internasional. Hal inilah yang membuat sebagian manusia indonesia masih mengagungkan Soeharto dan tidak menerima celaan yang dilontarkan kepadanya. Pasalnya, walaupun ia seorang koruptor, namun dari segi ekonomi, kesejahtraan rakyat terjamin. Berbeda dengan presiden sesudahnya. Harga – harga terus melambung tinggi dan entah kapan akan turun – inilah yang dijadikan alasan oleh mereka.

Pada saat ini, masyarakat tetap tertindas dari segi politik, dan sengsara dari segi ekonomi. Harga – harga mahal, sedangkan pendapatan tetap. Walaupun banyak koruptor besar yang tertangkap, namun koruptor secara kecil – kecilan terus berkembang.

Inilah yang menghiasi wajah pemerintah indonesia dari tahun 1998 sampai sekarang.

2. Faktor Kaum Intelektual

Sebagai kaum berpendidikan, sewajarnyalah mereka memberikan kritikan dan saran atas apa yang menimpa bangsa ini. Namun sadarkah kita kalau para inteklek juga sering mengibuli rakyat dengan pemikiran yang sering propaganda?

Secara gamblang mereka tidak melihatkan dan menampakkannya. Namun hal ini dapat kita buktikan dengan banyaknya aksi sogok menyogok yang juga sering dilakukan oleh kaum intelek yang bekerjasama dengan kaum birokrat indonesia.

Sebagai contoh:

Tokoh nasional Akbar Tandjung yang dikenal sebagai koruptor indonesia abad 21, ternyata bisa bebas dari dakwaan. Dan tahukah kita, sebelum ia melakukan persidangan terakhir, ia telah mempersiapkan acara syukuran di rumahnya? Apakah ada tersirat pertanyaan bagi kita, bagaimana ia begitu yakin kalau ia akan bebas dari dakwaan? Apakah ia menggunakan ahli ramal terkenal untuk mengetahuinya atau malah melakukan….

Kasus di atas adalah bagian terkecil dari beribu kasus yang menimpa wajah buram para intelektual dan birokrat Indonesia.

3. Faktor Pemuda/ Mahasiswa

”Pemuda adalah penyambung estafet perjuangan suatu bangsa”. Setidaknya slogan itu sudah sering kita dengar. Selain slogan di atas, masih banyak slogan yang menyatakan pentingnya peran pemuda.

Mahasiswa adalah sebutan khusus bagi mereka yang menyambung keperguruan tinggi. Status mahasiswa selalu menjadi kebanggan bagi mereka yang merasa bahwa dengan menjadi mahasiswa mereka mampu mengentaskan permasalahan bangsa dengan jalan demonstrasi. Sayangnya mereka melupakan status dan hakekat mahasiswa yang sebenarnya.

Bagi seorang mahasiswa, intelektual dan idealisme adalah hal yang penting. Karena idelismelah para mahasiswa era 1998 mau mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan reformasi. Kritis dan bersuara lantang selalu mereka sorakkan di dalam maupun di luar kampus. Dalam setiap demonstrasi, mahasiswa adalah penggerak strategisnya. Karena memang mahasiswa memiliki nilai jual yang cukup tinggi untuk itu.

Dalam setiap aksinya, mahasiwa selalu bersikap berat sebelah, ”berjuang untuk dan atas nama rakyat”. Tetapi tanpa di sadari, para calon intelek yang disebut dengan mahasiswa itu telah di tunggangi oleh rakyat. Rakyat di sini dalam interpretrasi yang cukup luas. Sikap berat sebelah mahasiswa di atas adalah titik lemah dari setiap aksi mahasiswa. Tanpa di sadari, idealis mereka terjual secara gratis.

Seharusnya dalam setiap aksi – aksinya, para mahasiswa harus bersikap objektif. Tidak berpihak kepada rakyat dan tidak pula berpihak kepada pemerintah. Tujuannya tidak untuk membela rakyat atau membela pemerintah, tetapi untuk membangun bangsa ini. Sikap inilah yang menjadi titik tolak awal dari dari keberhasilan gerakan mahasiswa tahun 1998. Sayangnya, sangat sedikit mahasiswa yang dapat bersikap objektif di era reformasi ini. Di era yang di lahirkan dengan sikap objektif dari ribuan mahasiswa, ternyata tidak dapat melahirkan para mahasiswa yang objektif.

Selanjutnya para mahasiswa yang memiliki idealisme tinggi – yang selalu lantang berbicara di dalam maupun di luar kampus, yang selalu mengkritik kebijakan dekan atau rektor bahkan pemerintah – selepas dari kampus (diwisuda dan mengandeng gelar sarjana) kehilangan idealismenya. Penyebabnya tidak ada yang tahu pasti, tetapi yang pasti adalah para mahasiswa yang menentang mahalnya biaya pendidikan dan menuntut pendidikan gratis malah mengharapkan gaji yang besar ketika ia jadi guru. Tidak hanya itu, mereka yang ditakdirkan menjadi guru, juga yang meminta difasilitasi dengan berbagai macam kemewahan, kalau tidak difasilitasi tidak mau ngajar. Logikanya adalah, para sarjana telah kehilangan idealisme. Ketika di wisuda harus menjadi pekerja atau mencari kerja. Sedikit dari mereka yang mau membuka lapangan kerja. Mungkin mereka takut akan mengambil resiko yang besar, yaitu rugi. Namun lagi – lagi keberanian seorang mantan mahasiswa di pertanyakan. Kemana hilangnya keberanian berdemonstrasi ketika masih menjabat sebagai mahasiswa? Kenapa keberanian tersebut tidak digunakan untuk membuka lapangan kerja, memberikan pendidikan gratis atau lain sebagainya? Apakah idealisme mahasiswa yang di dapat di dunia kampus juga di tinggalkan di kampus?

Masih banyak faktor – faktor yang menjadikan reformasi di Indonesia menjadi stagnan. Seharusnya masing – masing element di atas (selaku pelaku reformasi) lebih memfokuskan kepada persiapan masyarakat awam yang masih belum siap menerima reformasi tersebut. Awalnya kita menolak asumsi dunia internasional yang menyatakan bahwa reformasi di indonesia tidak akan dapat berjalan, karena belum siapnya stuktur dan infrastruktur. Dan kita menanggapinya dengan sinis. Tetapi hari ini, asumsi itu terbukti. Kita tidak dapat lagi berkilah. Yang harus kita lakukan bukan berkilah, tetapi melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu pembinaan kepada masyarakat, memfungsikan para sarjana sebagai agent of change di tengah – tengah masyarakat. Kalau para sarjana tidak difungsikan, maka ia harus memfungsikan diri sendiri. Hal itu di lakukan agar mereka (masyarakat awam) siap menerima reformasi, agar tujuan reformasi benar – benar tercapai.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s