DIVISION OF LABOR IN IBN KHALDUN THEORY’S

Setiap Jenis keahlian menumbuhkan (memerlukan) orang yang bertugas atasnya dan (mempunyai) keterampilan dalam melakukannya. Semakin banyak ragam pembagian dari suatu keahlian, semakin banyak orang yang harus mempraktekkan keahlian itu. Kelompok tertentu yang mempraktekkan keahlian itu diwarnai olehnya. Seiring dengan berjalannya waktu, dan bertambahnya jenis-jenis profesi satu demi satu, para tukang menjadi berpengalaman dalam berbagai keahliannya dan terampil tentang pengetahuan tentangnya. Jangka waktu yang panjang dan pengulangan pengalaman yang mirip menambah kepada pembentukan keahlian tersebut dan menyebabkannya berakar dengan kuat” [1]

ANALISA TEORI

Perbandingan

Pada dasarnya Division of labor telah di kemukakan oleh Plato dan Aristoteles pada abad ke 4 sebelum Masehi. Namun, teori Plato dan Aristoteles ini lebih di fokuskan kepada hakekat manusia. Mereka membagi manusia kepada penguasa, tentara, pekerja dan pedagang. Golongan terendah bagi Plato adalah golongan pekerja. Hal ini dikarenakan pekerja akan melakukan pekerjaan hanya untuk mendapatkan kekayaan dan kemewahan. Sehingga menurut Plato, sifat hedonisme yang ada pada manusia (khususnya pada golongan pekerja) harus dibatasi dan bahkan dihilangkan. [2]

Teori Plato ini disetujui oleh Adam Smith. Tapi sayangnya, menurut Adam Smith, sifat hedonisme manusia tidak perlu dihilangkan, biarkan sifat itu tumbuh dan berkembang, nanti akan terjadi pemerataan kekayaan ketika semua kebutuhan hidup manusia terpenuhi. Perbedaan division of labor Smith dan Plato adalah, kalau Plato membagi manusia sesuai dengan hakekat manusia diciptakan, sedangkan Smith ditujukan untuk mencapai out put yang besar dari perekonomian serta peningkatan kualitas manusia.[3]

Kalau di kaji lebih lanjut, ternyata Ibn Kaldun telah menetapkan sebuah teori Division of Labor sebelum Smith. Menurut Khaldun “Setiap Jenis keahlian menumbuhkan (memerlukan) orang yang bertugas atasnya dan (mempunyai) keterampilan dalam melakukannya”. Teori ini ditujukan untuk pembagian keahlian dalam sebuah proses produksi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan teori Smith, karena tujuannya adalah sama, yaitu untuk mencapai hasil produksi yang maksimal. Hanya saja, Smith menekankan adanya pengembangan sifat hedonisme manusia untuk mendapatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, sedangkan Khaldun berpendapat hampir sama dengan Plato, bahwa sifat egoistis manusia harus diminimalisir atau bahkan dihilangkan. Menurut Khaldun “ketamakan akan membuahkan (menghasilkan) kesengsaraan” dan juga Khaldun membagi urusan manusia menjadi dua bagian, yaitu: Hablum Minallah (hubungan dengan Allah) dan Hablum Minannas (hubungan dengan manusia lainnya). Jadi, menurut Khaldun, ketamakan akan berpengaruh buruk terhadap hubungan manusia dengan manusia sekaligus merusak hubungan manusia dengan sang pencipta (Allah).

Analisa Kekinian

Di dalam Muqaddimah-nya, Khaldun mengungkapkan bahwa harus ada beberapa faktor perangsang untuk memunculkan keinginan untuk bekerjasama pada suatu skala yang lebih besar antar beberapa manusia dengan manusia yang lain. Faktor perangsang tersebut adalah “kesetiakawanan” atau “group feeling” atau sering disebut juga “kesadaran kelompok” untuk mendapatkan apa yang ingin di peroleh (dari bidang ekonomi)[4]. Hal ini akan mendorong lahirnya organisasi sosial dan organisasi internasional yang saling bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan masing – masing organisasi (kelompok) yang ada[5].

Salah satu tokoh ekonomi dunia yang juga mengadobsi teori ibn khaldun adalah David Ricardo. Ia mengadobsi teori tentang spesialisasi produksi suatu kelompok yang telah di kemukakan di atas. Di mana suatu kelompok masyarakat/ negara harus menghasilkan barang – barang yang efisien dan spesifik (sesuai dengan keterampilan yang dimiliki oleh suatu kelompok/ negara), untuk kemudian di lakukan perdagangan internasional. Teori ini kemudian dinamakan dengan Comparative Advantage (keuntungan berbanding).[6]

Pengadobsian itu kemudian memicu lahirnya sistem perdagangan internasional (eksport dan import) yang telah di lakukan oleh berbagai negara sampai saat ini. Di mana sebuah negara (kita contohkan dengan India dan Perancis) India menghasilkan banyak kapas, kemudian India menjual kapasnya kepada Perancis. Sedangkan Perancis adalah penghasil mesin teknologi industri, maka Perancis akan menjual mesin – mesin buatannya kepada negara India. Atau dapat kita katakan bahwa India mengeksport kapas ke Perancis dan mengimport mesin – mesin industri dari Perancis. Sedangkan Perancis mengeksport mesin – mesin ke India dan juga mengimport kapas dari India. Yang demikian itu dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan hajat-nya[7].

Hal ini akan mengakibatkan naiknya pendapatan negara. Apakah itu dari bea cukai atau dari pajak yang dipungut oleh pemerintah. Seperti yang di katakan oleh khaldun :

“bahwa rakyat suatu negara mengambil sifat-sifat yang berkaitan dengan kepintaran. Kebiasaan dan kebutuhan mereka semakin beragam, karena mereka telah tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan. Akibatnya penekanan kewajiban pajak kepada rakyat semakin meningkat. Setiap kewajiban pajak individu benar-benar meningkat tinggi, dengan tujuan memperbanyak pendapatan pajak”.[8]

Namun, khaldun mengatakan “bahwa pemungutan pajak yang sangat tinggi akan sangat membebani rakyat”. Maka khaldun menekankan agar pemerintah tidak terlalu banyak mengeksport. Hal ini akan mengakibatkan kelangkaan barang – barang komoditi di dalam negara. Ia juga menekankan untuk tidak terlalu banyak mengimport, karena itu akan mematikan industri dalam negeri.[9] Intinya, harus ada keseimbangan dalam melakukan aktivitas perdagangan Internasional. Keseimbangan itu harus ada, dengan alasan bahwa harga akan suatu barang dan jasa itu di tentukan oleh Agregat Demand dan Supply.[10]

Berbeda dengan Ibn Khaldun, David Ricardo menekankan agar melakukan eksport sebanyak – banyaknya dan juga memperbayak import. Karena itu akan menambah pendapatan negara dengan penetapan harga yang tinggi dalam dan luar negeri yang tinggi dan tingginya pajak bea cukai.

Hal ini kemudian menyebabkan terjadinya kelangkaan barang dan matinya produksi dalam negeri, karena banyaknya barang yang di eksport dan banyaknya barang yang di import. Akibatnya, harga – harga melonjak naik (Inflasi), banyaknya pengangguran karena melemah dan matinya faktor produksi dalam negeri, pajak meningkat tinggi. Situasi ini akan membawa kepada melemahnya ekonomi, baik dalam maupun luar negeri.

PENERAPAN

Peluang dan Tantangan

Kesalahan dalam menerjemahkan situasi dunia dan ditumbuhkembangkannya sifat serakah manusia, telah membuat perekonomian dunia kacau balau. Pasalnya, seluruh sistem yang dikembangkan oleh Adam Smith dan David Ricardo tentang Division Of Labor seluruhnya hanya menguntungkan sebagian kelompok yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Tidak hanya itu, kekacauan juga dapat diakibatkan dari kesalahpamahan dalam memahami manfaat eksport – import (seperti yang dikemukakan oleh David Ricardo). Penyebab lainnya adalah melemahnya daya beli masyarakat akan barang dan jasa karena sedikitnya pendapatan sedangkan pengeluaran sangat banyak (sebagai contoh: kasus Great Depression yang melanda dunia pada awal abad ke 19)[11]

Aplikasi

Situasi seperti ini harusnya tidak terjadi jika para ekonom – ekonom terdahulu mengindahkan peringatan yang telah di berikan oleh Ibn Khaldun untuk mengimbangi antara eksport dan import. Dimana pengeluaran diimbangi dengan pendapatan atau pengeluaran lebih kecil dari pada pendapatan, maka secara tidak langsung akan terjadi yang namanya saving (tabungan), maka negara akan mencapai keseimbangan pendapatan.

Peringatan Ibn Khaldun baru ditelaah dan kemudian di adobsi oleh J.M. Keynes sebagai teori Keseimbangan Pendapatan Nasional dengan formula Y = C + S. Di mana nilai Y (pendapatan) sama banyaknya dengan hasil penambahan antara konsumsi/ pengeluaran(C) dengan Saving/tabungan(S).[12]

KESIMPULAN

Secara tidak langsung, baik disadari atau tidak, kebanyakan teori – teori ekonomi dari ibn khaldun telah banyak di adobsi dan dipraktekkan serta di aplikasikan pada era modern ini. Baik itu membagi tenaga sesuai dengan keahliannya guna menciptakan suatu produk, juga spesialisasi produksi suatu kelompok/ negara, sehingga melahirkan sistem perdagangan antar negara (eksport – import).


DAFTAR REFERENSI

Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: Rajawali Press, 2005.

Karim, Adiwarman Azwar, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2006

Khaldun, Ibn, Muqaddimah, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001.

Skousen, Mark, Sejarah Pemikiran Ekonomi, Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern, Jakarta, Prenada, 2005

Stiglitz, Joseph E., Dekade Keserakahan, Serpong, Marjin Kiri, 2006

Sukirno, Sadono, Pengantar Makro Ekonomi, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998


[1] Ibn Khaldun, Muqaddimah, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001.

[2] Deliarnov, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: Rajawali Press, 2005. hal. 12 – 13

[3] Deliarnov, Ibid, hal. 12 – 13

[5] Adiwarman Azwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Jakarta: PT. Grafindo Persada, 2006, hal. 397 – 399

[6] Deliarnov, Op.Cit, hal. 54

[7] Mark Skousen, Sejarah Pemikiran Ekonomi, Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern, Jakarta, Prenada, 2005

[8] Ibn Khaldun, Op. Cit., hal. 348 – 355

[9] Ibn Khaldun, Ibid.

[10] Adiwarman Azwar Karim, Op. Cit., hal. 397 – 399

[11] Joseph E. Stiglitz, Dekade Keserakahan, Serpong, Marjin Kiri, 2006

[12] Sadono Sukirno, Pengantar Makro Ekonomi, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s