MORAL EKONOMI

James C. Scott dan H. D. Evers

Dalam kajian sosiologi, Moral Ekonomi adalah suatu analisa tentang apa yang menyebabkan seseorang berperilaku, bertindak dan beraktivitas dalam kegiatan perekonomian. Hal ini dinyatakan sebagai gejala sosial yang berkemungkinan besar sangat berpengaruh terhadap tatanan kehidupan sosial.

Menelaah lebih lanjut, beberapa buku referensi bagi mahasiswa dalam perkuliahan, diajukan beberapa teori tentang moral ekonomi. James C. Scott mengajukan sebuah analisa tentang kehidupan petani sedangkan H.D. Evers mengemukaakn teori tentang moral ekonomi pedagang. Inti pembahasannya adalah apa yang menyebabkan sekelompok masyarakat berperilaku, bertindak dan beraktivitas dalam kegiatan perekonomian.

1. Moral Ekonomi Petani

J.C. Scott menyatakan bahwa moral ekonomi petani di dasarkan atas norma subsistensi dan norma resiprositas. Di mana ketika seorang petani mengalami suatu keadaan yang menurut mereka (petani-red) dapat merugikan kelangsungan hidupnya, maka mereka akan menjual dan menggadai harta benda mereka. Hal ini disebabkan oleh norma subsistensi. Sedangkan resiprositas akan timbul apabila ada sebagian dari anggota masyarakat menghendaki adanya bantuan dari anggota masyarakat yang lain. Hal ini akan menyebabkan berbagai etika dan perilaku dari para petani.

James C. Scott menambahkan bahwa para petani adalah manusia yang terikat sangat statis dan aktivitas ekonominya. Mereka (petani-red) dalam aktivitasnya sangat tergantung pada norma-norma yang ada.

2. Moral Ekonomi Pedagang

H.D. Evers mengemukakan bahwa moral ekonomi pedagang timbul ketika mereka menghadapi permasalahan dalam aktivitas jual beli. Ia mengatakan para pedagang seringkali mengalami dilema. Moral ekonomi pedagang, menurut H.D. Evers timbul karena adanya pertentangan dalam diri pedagang sendiri. Apabila yang menjual dengan harga yang tinggi, maka dagangannya tidak akan laku/ laris. Apabila ia menjual dagangannya dengan harga murah, sedangkan modal sangat mahal, maka kerugian yang akan dialami.

Dalam keadaan seperti itu, menurut H. D. Evers, pedagang berusaha mencari jalan keluar sendiri. Di antaranya adalah dengan memilih jalan untuk merantau/ membuka usaha di negeri orang. Sehingga pertentangan bathinpun tidak ada lagi. H.D. Evers memandang bahwa pedagang adalah manusia yang kreatif dan dinamis. Hal didasarkan kepada para pedagang tidak tertumpu pada norma-norma yang ada di dalam masyarakat. Mereka bisa menyelesaikan permasalahan pribadi tanpa melanggar norma-norma yang ada.

Dalam memahami Moral Ekonomi dari dua golongan masyarakat yang berbeda di atas, terbesit sebuah pertanyaan, bagaimana dengan moral ekonomi dari golongan masyarakat lain seperti nelayan dan masyarakat metropolis?

Pada dasarnya, setiap manusia yang terlibat dalam aktivitas perekonomian akan mengalami hal sama. Baik masyarakat nelayan maupun masyarakat metropolis. Apabila mereka menghadapi masalah yang disebut dengan masalah subsistensi (keselamatan pribadi) atau resiprositas maka mereka akan mencoba untuk melakukan tindakan-tindakan yang baru, seperti menjual, menggadai, meminjam uang (berhutang) dan lain sebagainya atau bahkan mencuri sekalipun. Tujuan dari itu semua adalah untuk mengamankan posisi mereka dalam aktivitas perekonomian guna menghadapi persaingan yang ada.

Maxilian Weber

Maxilian Weber atau yang akrab di kenal dengan Max Weber telah menelaah moral ekonomi dalam kehidupan masyarakat protestan. Weber menyatakan bahwa semangat kapitalis timbul dari masyarakat ini. Di mana mereka (protestan-red) berkeyakinan manusia terpilih adalah mereka yang mendapatkan panggilan suci. Untuk menjadi manusia yang mendapatkan panggilan suci tersebut, manusia harus berusaha sekuat tenaga, baik dalam bidang ekonomi, politik dan sebagainya. Hal itu membuat mereka berlomba-lomba untuk mencapai kekayaan.

Menurut Weber, keyakinan itu telah menimbulkan sebuah semangat kapitalis dalam diri masyarakat protestan. Untuk itu, mereka membentuk club-club kecil yang memberikan fasilitas kepada setiap anggotanya, baik berupa keamanan, asuransi dan jaminan-jaminan lainnya. Hal ini juga disebabkan oleh salah satu ayat dalam Al-Kitab”hendaklah kamu saling memberi, tanpa mengharapkan balasan satupun” (Lukas VI:35)

Semangat kapitalis disebabkan oleh keyakinan mereka kepada agama. Setidaknya itulah yang di ungkapkan oleh Max Weber dalam tesisnya “The Protestan Etich And Spirit Of Capitalism”.

Moral Ekonomi Sosialis

Karl Marx yang di kenal dengan aliran Marxisme-nya, membagi masyarakat kepada kelas ploretar dan kelas borjuis. Hal ini kemudian di kenal dengan teori kelasnya.

Moral ekonomi dalam kalangan sosialis tidak terlepas dari teori yang di kemukakan oleh James C. Scott dan H. D. Evers di atas. Hal inilah yang kemudian memancing Marx untuk membentuk persatuan buruh yang berorientasi kepada pembebasan hak-hak mereka dari kungkungan kaum borjuis. Hal ini dikarena kerasnya persaingan perekonomian dalam sistem Kapitalis. Keadaan seperti ini kemudian memancing lahirnya revolusi sosialis di mana pemerataan kepemilikan adalah sistem perekonomiannya.

Moral Ekonomi dalam Islam

Segala bentuk aktivitas manusia sudah diatur oleh Allah dalam Al-Quran. Baik itu aktivitas ekonomi, sosial, politik sampai kepada adab untuk meludahpun ada aturannya. Dalam sistem ekonomi, Islam menekankan untuk mencari rezki di atas dunia dengan tidak melupakan kewajiban-kewajiban kepada Allah dan norma-norma yang telah ditetapkan.

Sistem perekonomian dalam islam diatur jelas dalam Al-Quran. Salah satunya terdapat dalam surat al-jumu`ah ayat 10: “apabila kamu selesai shalat, betebaranlah di muka bumi untuk mencari rezki yang diberikan Allah” dalam ayat ini, jelaslah bawah moral ekonomi dalam Islam sangat terikat pada Al-Quran dan Sunnah Rasul.

Dalam urusan subsistensi dan resiprositas, Al-Quran mewajibkan zakat bagi yang mampu, dan menganjurkan untuk menunaikan sedekah, infak dan wakaf. Sehingga kemerataan perekonomian pun terjadi. Hal itu di serukan Allah sebagai wujud antisipasi dari kemungkinan-kemungkinan negatif. Hal itu bisa saja terjadi apabila norma subsistensi dan resiprositas sudah sampai pada taraf yang tidak wajar, sebagai contoh apabila masyarakat di landa sebuah musim paceklik. Maka golongan masyarakat yang kurang mampu dapat terbantu karena adanya zakat, sedekah, infak dan wakaf.

Di sisi lain, Al-Quran juga menganjurkan untuk saling tolong menolong. “tolong menolonglah kamu kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan keingkaran”

Intinya, moral ekonomi dalam Islam sangat tergantung pada kitab panduan yang diberikan Allah untuk mengatur kehidupannya manusia, tidak saja pertimbangan norma subsistensi dan resiprositas, tetapi juga mempertimbangkan norma-norma sosial yang lain. Tindakan yang akan timbulpun akan berbeda. Karena dengan keyakinan dalam setiap perbuatan ada balasannya, apakah itu kebaikan maupun keburukan, maka Umat Islam yang beriman pun akan selalu mengerjakan aktivitas ekonomi hanya untuk mengharapkan keridahaan Allah.

 

3 responses to “MORAL EKONOMI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s