MENOLAK ALIRAN SESAT DENGAN LOGIKA!!!

Aliran sesat termasuk bagian dari sejarah perkembangan Islam. Jangan heran kalau akhir-akhir ini banyak kita temui segerobak aliran sesat dalam tubuh umat Islam yang berkembang dengan pesatnya.

Dalam sejarah Islam, dapat kita lihat bahwa aliran sesat sudah mulai berkembang pada masa kekhalifahan Abu bakar Shiddiq. Aktornya adalah Musailamah Alkazab yang mengaku sebagai Nabi. Dengan sangat berani ia mengemukakan dan menyeru kepada umat bahwa ia bukanlah nabi gadungan, tetapi memang nabi yang diutus oleh Allah setelah meninggalnya Muhammad.

Untuk menindaklanjutinya, Khalifah Abu Bakar mengambil keputusan bahwa orang-orang yang mengikuti ajaran Musailamah adalah Murtad dan hukumannya adalah Hukuman Mati. Tak khayal, khalifah Abu Bakar ketika itu mengumandangkan bendera perang kepada mereka yang mengikuti ajaran Nabi Gadungan itu dengan hukuman mati sesuai dengan ajaran Islam. Tidak hanya pengikutnya yang dihukum, tetapi juga sang nabi palsu juga menerima hukuman mati tersebut.

Namun hal itu adalah kenangan masa lalu. Dimana kenangan akan tetap menjadi kenangan dan entah kapan akan kembali seperti itu.

Zaman telah berubah. Hukuman pancung tidak lagi bisa dipertahankan. Adanya lindungan akan Hak Azazi Manusia telah mengikis habis hukuman-hukuman ala Islam yang pada zaman dulu mampu mendamaikan umat manuia. Setiap sesuatu yang dilakukan berdasarkan hukuman yang berlaku dalam islam maka itu dianggap sebagai suatu tindakan yang melanggar Hak Azazi Manusia (HAM).

Masalah aliran sesat adalah masalah aqidah dan masalah keyakinan. Dimana seseorang akan mati-matian memperjuangkan apa yang diyakininya itu. Aliran sesat tak ubahnya sebuah ideologi yang akan diperjuangkan oleh sebagian orang yang meyakininya. Oleh karena itu, tidak gampang untuk menghilangkan aliran-aliran sesat. Perlu pendekatan khusus dalam melawannya. Kalaulah negara ini adalah negara yang berasaskan kepada hukum Islam, maka pendekatan itu adalah hukuman pancung yang wajib diterima oleh pelakunya. Oleh karenanya negara ini akan aman dari suatu istilah yang sudah sering kita dengar yaitu “Aliran Sesat”. Hal itu dikarenakan adanya penekanan secara psikologis kepada pelaku untuk tidak melakukan hal yang sama, apalagi ikut-ikutan.

Namun, Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah negara sekuler. Dimana negara melindungi seluruh Hak Azazi Manusia, termasuk dalam masalah agama dan keyakinan. Pendekatan dengan memberikan hukuman pancung – dalam mengatasinya – tidak bisa begitu saja dilakukan. Semuanya perlu dipertimbangkan.

Jikalau kita mengkaji sejarah tentang munculnya nabi palsu mulai pada zaman Abu Bakar sampai sekarang, ada suatu hal yang menarik perhatian, yaitu masalah kekecewaan umat terhadap situasi yang terjadi. Kekecewaan itu mengakibatkan tidak adanya respon terhadap dasar-dasar agama. Tidak adanya respon itu kemudian berkembang menjadi suatu dialektika dalam fikiran umat. Adanya dialektika yang terjadi dalam fikiran umat, dimana tesis anti tesis selalu digunakan, mengakibatkan ummat Islam dipaksa untuk menarik sintesis sendiri sebagai solusi atas kegundahan hatinya. Hal itu adalah proses berfikir logis. Dimana ummat menghubungkan antara dua kejadian yang mempunyai dua kemungkinan yang kedua-duanya sama-sama kuat dan sangat logis. Sebagai contoh: adanya kekecewaan atas meninggalnya Muhammad bin Abdullah dari sebagian ummat. Meninggalnya Rasulullah SAW telah mengakibatkan munculnya aliran sesat pertama kali dalam tubuh Islam. Pasalnya, mereka beranggapan bahwa Muhammad bin Abdullah adalah hamba Allah yang terpilih. Karenanya, Muhammad bin Abdullah tidak mungkin mati. Tapi kenapa Allah mengambil sang Nabi yang kemudian sang nabi harus meninggal dunia? Pertanyaan itulah yang menyebabkan banyak orang yang kembali kepada kekafiran pasca meninggalnya Muhammad.

Secara logika, memang Muhammad adalah manusia biasa yang juga pasti menghadapi kematian. Sebaliknya, Muhammad bin Abdullah adalah seorang nabi, nabi adalah insan terpilih, maka sudah pasti Allah tidak akan mengambil nyawanya walaupun ia hanya manusia biasa, hal itu adalah suatu yang mungkin saja dilakukan oleh Allah. Kedua argumen tersebut dapat diterima oleh akal sehat. Intinya adalah, tidak ada yang tidak mungkin dilakukan oleh Allah.

Dari contoh diatas, terdapat dua perbedaan. Yang satu mencoba mengembalikan Muhammad bin Abdullah sebagai manusia biasa yang bisa saja mati, yang lainnya mempertanyakan kekuasaan Allah. Penyelesaiannya – yang kemudian menjadi sintesis dari keduanya – adalah, sebagai sang pencipta Allah berhak melakukan apa saja terhadap ciptaannya. Apakah Allah akan mematikan atau menghidupkan. Itu adalah hak Allah. Karena Muhammad bin Abdullah adalah milik-Nya juga, maka Allah berhak untuk menghidupkan dan mematikannya, walaupun ia adalah seorang Nabi dan Rasul.

Bagi yang melihat kekuasaan Allah dengan matinya Muhammad bin Abdullah, maka ia berkesimpulan bahwa Allah berhak mematikan siapapun, termasuk nabi sekalipun. Namun golongan yang tidak terima atas keputusan Allah, merekalah yang kemudian mencoba untuk lari dari dasar-dasar agama. Landasan mereka adalah sebuah pertanyaan kenapa Allah harus mematikan Muhammad? Apakah Allah tidak mampu untuk menghidupi Muhammad selamanya?

Situasi seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Musailamah Alkazab untuk mengacaukan ummat. Mereka yang tidak terima atas kematian Rasulullah akan terpengaruh dengan seruan nabi palsu ini yang pada akhirnya menjadi pengikutnya.

Setiap aliran memiliki sebuah tujuan, mekanisme dakwah (pola komunikasi) dan tentunya orientasi yang dilatarbelakangi oleh sebuah kejadian atau suatu kondisi tertentu. Sama halnya dengan aliran sesat. Ia mempunyai mekanisme komunikasi tersendiri, memiliki tujuan dan orientasi yang dilatar belakangi oleh situasi dan kondisi saat ini.

Setiap agama pastinya memiliki panduan yang disebut dengan kitab suci. Panduan ini berisikan perintah-perintah Tuhan, larangan-larangan, hukum dan lain sebagainya.

Setiap Nabi, seperti Muhammad SAW- pun menerima panduan yang disebut dengan al-Quran. Panduan itu tentunya ditujukan kepada umat manusia. Dalam penurunannya memakan waktu yang lama. Lamanya adalah 22 tahun 2 bulan 22 hari. Proses penurunannyapun tidak berlangsung dengan instan. Tetapi secara berangsur-angsur. Tujuannya adalah merobah segala tradisi arab jahiliyah yang sudah tidak sesuai dengan peri kemanusiaan. 22 tahun adalah waktu yang lama untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi dalam sosial masyarakat arab ketika itu.

Aliran sesat dari sebuah agama tentunya memiliki buku panduan ini. Para pendirinya mengaku telah menerima wahyu untuk berdakwah dan ia pun membuat buku panduan ini. Anehnya adalah, para rasul dari aliran sesat ini kebanyakan merima wahyu dalam waktu yang relatif singkat. Sebagian dari mereka mengaku menerima wahyu itu selama 4 – 6 tahun. Padahal permasalahan-permasalahan yang terjadi pada masa sekarang tidak seperti dulu. Tidak seperti dulu disini maksudnya adalah sangat komplet dan sangat rumit dari masa jahiliyah.

Dalam penurunan wahyu pada nabi aliran sesat, sepertinya tuhan tidak tahu kondisi yang terjadi saat ini. Dimana kondisi itu dapat digambarkan dengan jahiliyah. Bahkan lebih parah dari jahiliyah tempo dulu. Dari hal ini, timbul pertanyaan, dalam kondisi seperti ini, kenapa tuhan menurunkan wahyu hanya dalam tempo 4 – 6 tahun sedangkan pada masa jahiliyah Muhammad bin Abdullah menerima wahyu selama 22 tahun? Apakah tuhan tidak tahu, bahwa kondisi saat ini semakin komplet dari zaman jahiliyah?. Tidak saja perzinaan, perjudian, pembunuhan yang terjadi secara terang-terangan, tetapi juga terjadi pembantaian massal yang dilakukan oleh sekelompok orang kepada sekelompok manusia lainnya, seperti pembantaian Nazi kepada kaum yahudi dan lain-lain? Harusnya waktu penurunan wahyunya lebih lama dari itu!!!

Hal inilah yang kemudian menjadikan tuhan itu lemah. Karena sekilas, tuhan tidak mampu melihat kebutuhan umat manusia saat ini seperti halnya Allah Melihat kebutuhan umat pada masa jahiliyah dulu.

Di dalam proses penurunan wahyu, tentunya Tuhan mempunyai strategi. Strategi disini adalah dengan berangsur-angsur. Agar mengikutnya mudah menghafal wahyu diturunkan kepada sang Nabi, dan tentunya harus sesuai dengan realitas sosial politik yanng kini terjadi.

Daya tampung otak manusia hanya 1000 CC . Tidak mungkin tuhan memaksakan semua diturunkan sekaligus dalam waktu yang singkat. Kalau kita lihat kemampuan manusia untuk menghafal, tidak mungkin rasanya manusia mampu menghafal buku setebal 800 – 1000 halaman dalam waktu yang singkat. Hal ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Kalau kita kembalikan kepada dialektika logika manusia seperti di atas, maka kita akan mendapatkan dua kesimpulan. Kesimpulan pertama adalah: tidak mungkin tuhan melakukan hal itu (menurunkan wahyu keseluruhannya dalam waktu yang singkat). Karena sebagai pencipta, Tuhan pasti tahu kemampuan manusia sebagai hamba ciptaan-Nya. Tuhan tidak memiliki sifat pelupa akan apa yang diperbuatinya. Karena kalau tuhan memiliki sifat itu, maka Tuhan sama dengan makluk ciptaan-Nya sendiri. Oleh karena itu, tuhan adalah lemah. Sedangkan tuhan tidak memiliki sifat lemah. Intinya tuhan tidak sama dengan makluk. Karena tuhan adalah pencipta makhluk, sedangkan makhluk adalah ciptaan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kesimpulan kedua, adalah mungkin saja itu dilakukan oleh Tuhan. Karena manusia adalah ciptaan-Nya. Sebagai pencipta, Tuhan berhak memberikan kelebihan dan kekurangan kepada ciptaan-Nya.

Mereka yang percaya pada kesimpulan kedua, merekalah yang kemudian menjadi mangsa para nabi gadungan, sedangkan yang tidak percaya akan terus dalam jalur koridor yang telah ditetapkan oleh agama.

Dalam banyak hal, aliran sesat tergolong aliran baru. Status benar atau tidaknya tergolong 50 – 50. Sintesis pertama adalah benar dan sintesis kedua juga benar. Makanya, sangat sulit bagi sebagian ummat yang tidak memiliki basic yang kuat menolak aliran baru ini.

Kalau kita telusuri lebih jauh lagi dengan logika, sintesis yang kedua sangat mempunyai kelemahan. Kelemahannya adalah walaupun Tuhan berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya, tetapi Tuhan pasti tidak akan lupa dengan apa yang dikatakan-Nya dalam al-Quran. Perkataan Tuhan itulah yang kemudian meniadakan adanya nabi setelah Muhammad bin Abdullah dengan kata-kata khatimul anbiya’ (penutup para nabi). Meskipun Tuhan tidak lupa dan tetap melakukan menurunkan nabinya pada saat ini, maka Tuhan telah ingkar janji. Janjinya adalah: “hari ini telah ku redoi/ kusempurnakan Islam sebagai agamamu”. Artinya, sangat tidak mungkin Tuhan menurunkan nabi lagi untuk membentuk suatu agama baru.

Kalau Tuhan masih menurunkan rasul setelah rasul terakhir seperti yang dikatakan-Nya, maka itu bukan Tuhan yang sebenarnya, Tetapi Tuhan Bikinan Manusia alias Tuhan Gadungan. Hal ini disebabkan karena tuhan tidak memiliki sifat pelupa seperti yang telah kita bahas di atas. Lebih baik kita tidak ber-Tuhan dari pada harus ber-Tuhan kepada Tuhan yang pelupa, Tuhan yang mempunyai sifat sama dengan ciptaannya, Tuhan yang mempunyai kelemahan. Seperti yang dinyatakan oleh Abraham (Ibrahim AS) dalam perjalanannya dalam rangka mencari tuhan, yaitu : “saya tidak ber-Tuhan kepada yang hilang, dan tidak pula kepada yang tenggelam, dan tidak pula kepada yang mudah hancur”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s