KADERISASI=PRAGMATIS & OPORTUNIS???

Dari dulu sampai sekarang, umat Islam sering terpecah menjadi kelompok-kelompok yang menyebut diri mereka sebagai pejuang Islam. Herannya, antara kelompok-kelompok tersebut, walaupun mereka satu visi, tidak pernah bersatu dan membuat komitmen untuk berjuang bersama.

Hal ini telah menjadi dilema bagi sebagian kelompok-kelompok tersebut atau yang lebih kita kenal dengan sebutan Ormas Islam. Antara satu dan yang lain sering mengklaim bahwa merekalah yang benar. Disadari atau tidak, setiap ormas sering menuding ormas lain sebagai ormas yang salah kaprah. Apakah memang seperti itu? Memang dalam keadaan kehidupan sehari-hari pertengkaran itu tidak nampak, karena bersifat perang dingin alias perang politik atau perang otak yang mereka sebut dengan Ghazwatul Fikr. Mengapa ormas islam menjadi seperti ini, tidak ada yang tahu pasti. Tetapi yang jelas organisasi yang telah lama diyakini sebagai lembaga pendidikan mental dan spiritual nonformal, tidak sanggup lagi melahirkan kader-kader yang objektif dalam melihat dan merespon setiap permasalahan.Kepentingan-kepentingan kelompok sering kali mewarnai pertemuan-pertemuan yang dilangsungkan. Melihat realita seperti ini, fungsi organisasi yang seharusnya menjadikan mereka militan dan siap berjuang dalam segala medan, malah menjadikan kader-kadernya tumbuh dan berkembang sebagai kaum politisi muda yang pengecut, tidak berani menyuarakan hal yang hakekatanya adalah benar.

Tidak saja pada dunia ormas islam, keadaan seperti inipun telah merebak ke kampus. Dalam setiap pemilihan presiden mahasiswa/ ketua senat, sangat tercium sekali adanya aroma sabotase di dalamnya. Hal ini menjadikan setiap mahasiswa yang berkecimpung di dalamnya tidak lagi menyadari bahwa dunia pemerintahan kampus adalah miniatur sebuah pemerintahan sebuah negara. Tujuan dari perpolitikan kampuspun sering terlupakan. Inilah yang menyebabkan kebanyakan aktifis-aktifis mahasiswa rela melakukan apa saja demi organisasi yang dibelanya. Akibat dari semua itu, mahasiswa Islam sebagai kader muda Social Engenering tidak memahami hakekatnya sebagai aktor perobahan dengan karyanya. Ironsinya, kabanyakan dari mereka malahan menjual idealisme mereka hanya untuk kepentingan financial, tentu saja alasan mereka adalah perjuangan.

Keadaan setiap organisasi (Ormas/ BEM) dalam melahirkan kader-kader yang tidak mampu bersikap objektif ini disebabkan oleh beberapa faktor:

  1. Gagalnya pembinaan metal bagi para kader
  2. Adanya senioritas dalam pembinaan yang dilakukanFaktor ini adalah faktor yang paling signifikan. Setiap kader baru tentunya akan mematuhi seniornya, bahkan ada yang menjadi taklid dengan apa yang dikatakan seniornya, walaupun itu sangat irasional.
  3. Ormas tidak lagi menjadi alat perjuanganOrmas yang menyatakan diri mereka berjuang di jalan Allah, ternyata malahan menjadikan kadernya menjadi kader yang memperjuangkan ormasnya. Bahkan ada yang memperjuangkan dirinya untuk tetap berada di dalam ormas tersebut untuk medapatkan atau menduduki posisi yang lumayan strategis. Sehingga situasi internal organisasi tersebut tidal lagi kondusif, steril dan bebes dari politik-politik praktis keormasan. Alhasil, setiap ormas yang mengaku organisasi kader Islam pun melahirkan kader-kader yang pragmatis dan oportunis.

Dalam sebuah demo yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa atau ormas Islam, disadari atau tidak, kebanyakan dari mereka disponsori oleh beberapa orang yang mempunyai kepentingan di dalam aksi mereka. Memang tidak seluruhnya, terjadi seperti itu. Tetapi untuk buktinya, dapat kita amati ketika koordintor demo sebuah organisasi/ ormas kemudian sanggup membelikan pasukannya nasi bungkus ataua bahkan memberikan uang secara Cuma-Cuma. Memang ada para donatur yang mau menanggung sebagiana dana untuk demo yang kemdian menjadi sponsor bagi mereka untuk melakukan demo. Sponsor itupun dapat kita bagi kepada 2 golongan, sponsor orang dalam dan sponsor non orang dalam. Sponsor orang dalam adalah orang-orang yang mantan, atau yang lazim kita sebut alumni atau keluarga besar dari organisasi tersebut. Sponsor non orang dalam adalah orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan suatu organisasi yang melakukan demo. Kebanyakan sponsor non orang dalam inilah yang kemudian bermain dengan adanya aksi demo yang dilakukan. Seolah-olah para demonstran ini menjadi kuda tunggangan mereka untuk mendapatkana sesuatu, apakah itu suatu kedudukan atau keuntungan lainnya. Sponsor orang dalam sendiri tidak luput dari kemungkinan ini. Singkat kata, sebagian ormas saat ini hanya dijadikan kuda tunggangan orang-orang yang memiliki kepentingan.

Kalau ingin mendapatkan sesuatu, maka dekatilah ormas, jaringlah masa dari mereka. Kalimat ini seolah-olah dapat kita temui secara abstrak ketika adanya PILKADA, atau pemilihan-pemilihan yang memiliki aroma politik lainnya. Namun terlepas dari semua itu, memang tidak ada yang dapat di persalahkan atau bahkan di tuding dan dituntut untuk bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Tetapi yang jelas, saat ini sebagian ormas yang ada tidak lagi bersikap Objektif dan Netral dalam menganggapi semua permasalahan yang ada.

Kegagalan dalam pembinaan kader, apakah itu disitilahkan dengan kaderisasi atau dengan istilah lainnya dalam setiap organisasi, telah membuat setiap kadernya memiliki sifat pragmatis – oportunis. Kalau sistem ini tidak segera kita perbaiki, maka karamlah bangsa ini. Kenapa saya bilang demikian, karena bangsa saat ini membutuhkan kader-kader muda yang memiliki kepribadian yang objektif, tidak orang-orang yang prgamiatis apalagi oportunis.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s