AKTIVIS GADUNGAN

Aktivis adalah kata-kata yang sering didengar dalam kehidupan kampus. Seolah mereka (aktivis) itu telah menjadi elit politik kampus, yang wajib di kenal oleh sebagian mahasiswa yang lain. Kalau tidak kenal dengan kalangan aktivis, dikatakan kulot, kurang pergaulan atau apa saja yang dapat mencela mereka yang tidak kenal dengan sebagian aktivis kampus.

Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa pergerakan sebagian besar aktivis di negeri ini telah merubah sistem pemerintahan negara ini, dari sistem demokrasi terpimpin ala orde baru menjadi demokrasi yang berasaskan kepada kebebasan rakyat dalam ber-apresiasi. Bahkan mereka rela mengorbankan harta, benda bahkan nyawa demi sebuah perjuangan yang dinamakan dengan perjuangan rakyat.

Adalah hal yang sangat wajar, kalau sebagian mahasiswa terkagum-kagum kepada sebagian aktivis yang kata mereka adalah intelektual kampus. Tidak sedikit dari mereka (mahasiswa yang bukan aktivis) mencoba meniti karir untuk menjadi aktivis kampus. Apapun dilakukan agar mereka dapat meniti karir untuk suatu titel yang disebut dengan aktivis kampus.

Kata-kata aktivis kampus sendiri, sering menjadi dilema bagi mereka yang dipanggil aktivis. Adakalanya mereka di puja dan ada kalanya mereka dihina. Mereka dianggap sebagai pahlawan kalau mereka berhasil, kalau tidak berhasil ia malah mendapatkan cacian, hinaan bahkan sering di anggap pengkhianat perjuangan.

Ketika mereka mendapatkan pujian, ada sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka. Kebanggaan itu berlanjut kepada naiknya image yang kemudian melahirkan sebuah aksioma bagi para penggemarnya akan diri sang idola. Semakin naiknya image aktivis di kampus, sering kali membuat mereka lengah akan situasi sosial di luar kampus. Para aktivis yang seharusnya menjadi Perekayasa Sosial (social engineering actor) tidak mampu melakukan apa-apa ketika situasi sosial mereka di luar kampus mengalami kekacauan, apakah itu sosial budaya maupun politik. Inilah sebabnya, sebagian mahasiswa yang bangga akan titel mereka di kampus dianggap mandul, karena memang mereka tidak mampu melihat realita sosial di tengah-tengah masyarakat dan melakukan perubahan, apakah itu dari segi struktur sosial atau kultural.

Kalau kita runut lebih jauh, kata-kata aktivis adalah orang yang selalu aktif. Aktif di sini tidak terbatas pada ruang. Artinya, aktivis adalah orang yang selalu aktif, apakah itu di kampus maupun di luar kampus. Kata aktivis sendiri terlalu sempit kalau kita maknai dengan orang yang hanya aktif di kampus. Memang mereka dapat merekayasa politik kampus dengan baik, tapi kalau mereka tidak dapat membaca situasi sosial politik kehidupan di luar kampus, itu belum dapat dikatakan dengan aktivis.

Kalau kita kaji struktur sosial kehidupan kampus dari segi aktivitas, maka akan kita dapati suatu hal yang mendasar antara suatu golongan dengan golongan yang lain, yang kemudian harus kita bedakan, yaitu:

1. Golongan yang disebut dengan istilah kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang)
Golongan ini jelas tidak ada kaitannya dengan tulisan ini, karena mereka hanya penonton sengitnya pertarungan antara aktivis yang satu dengan aktivis yang lain dalam memperjuangkan politik kampus yang menurut mereka lebih baik. singkatnya, golongan ini cuex bebek atas kondisi politik kampus, yang penting bagi mereka adalah, kuliah dengan rajin, setelah tamat kuliah mendapat nilai yang baik dan pekerjaan yang layak.

2. Golongan yang disebut dengan istilah Organisatoris
Dari tulisannya saja jelas, bahwa golongan ini adalah orang yang
aktif dalam sebuah organisasi. Orang dari golongan inilah yang sering dipanggil oleh mahasiswa lainnya dengan aktivis. Alasannya adalah “aktivis itu kan orang yang aktif, nah dia kan aktif di organisasi, maka dia adalah aktivis!!!” apa benar demikian???

Organisator adalah orang suka berorganisasi. Orang dari golongan ini belum tentu seorang aktivis. Ada mahasiswa yang suka berorganisasi, tetapi tidak dapat melakukan perubahan-perubahan sosial yang dibutuhkan oleh mahasiswa lainnya apalagi masyarakat. Maka ia bukanlah seorang aktivis, tetapi hanya seseorang yang suka mengurus organisasi.

3. Golongan yang disebut dengan panggilan Aktivis
Untuk menjadi sampai pada golongan ini tidaklah mudah. Ada beberapa tingkatan yang harus dilaluinya. Mulai dari aktif di organisasi (menjadi organisatoris) sampai ia mampu membaca situasi sosial yang ada, tidak hanya di kampus tetapi juga masyarakat luas. Apakah itu dengan mengikuti training-training yang diadakan oleh LSM atau beberapa ormas lainnya, atau dengan membaca buku sebanyak-banyaknya. Yang penting, mereka sudah mempunyai konsep akan perubahan yang akan mereka lakukan dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dari tiga tingkatan di atas, dapat kita saksikan, betapa rancunya istilah aktivis itu. Para mahasiswa tidak bisa membedakan mana yang organisatoris dan mana yang aktivis. Yang penting bagi mereka adalah kalau ada orang yang aktif di organisasi, maka ia dipanggil dengan aktivis. Inilah yang membuat rancu. Seorang organisator di panggil atau diberikan titel aktivis lantaran suka mengurus organisasi oleh sebagian mahasiswa yang merasa kagum kepada mereka lantaran keahlian yang dimilikinya. Yang lebih rancu lagi adalah kaum organisator ini sering kala menyebut diri mereka dengan aktivis. Perlu di ingat, bahwa organisatoris hanya orang yang suka berorganisasi, sedangkan aktivis, adalah orang yang juga gemar berorganisasi dan memiliki konsep-konsep perubahan sosial dalam jangka pendek atau jangka panjang. Singkatnya setiap aktivis adalah organisatoris tetapi setiap organisatoris belum tentu aktivis.

So, para organisator yang dipanggil aktivis adalah aktivis gadungan, yang hanya mengurus organisasi dan tidak dapat melakukan perbuahan sosial, baik kehidupan kampus maupun masyarakat, bahkan mereka tidak dapat merancang perubahan sosial yang akan dilakukannya di tengah-tengah masyarakat setelah mereka selesai dari studinya

One response to “AKTIVIS GADUNGAN

  1. Bagi aktivis yang tersambung secara fungsional antara “teriak” di kampus dengan tindakan nyata di lapangan pascalulus kuliah, saya angkat topi & apresiasi.

    Akan tetapi, bagi yg doyan teriak hingga suaranya serak sekalipun, ternyata sampai di “medan laga” cuma bisa diam, ya saya minta ampun…. hehehe🙂 Salam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s