NENEK MOYANGKU SEORANG PELAUT

Nenek Moyangku Seorang Pelaut…. nyanyian itu pastinya tidak lagi asing di telinga kita. Betapa tidak, dari kecil kita sudah diajari oleh guru kita tentang dendangan lagu itu semenjak kita SD. Tapi apakah kita sadar, ternyata nyanyian itu tidak hanya sekedar nyanyian belaka.
Pelaut sangat identik dengan orang-orang yang hidup di daerah perairan atau lebih tepatnya disebut dengan laut. Sama hal nya dengan nelayan, maka pelaut pasti akan mengarungi samudra. Bedanya nelayan hanya mengarungi samudra untuk mencari ikan dan hasil laut lainnya, sedangkan pelaut, mereka hidup di laut, mengarungi samudra selama berbulan-bulan serta menjadi penakluk laut seperti yang lebih akrab di telinga kita beberapa nama seperti Marcopolo dan Colombus.
Begitulah sekilas tentang pelaut. Tetapi apakah kita sadar akan satu hal, bahwa kata ”pelaut” ternyata mengandung makna filosofis yang tidak terduga?
Seorang di katakan pelaut apabila dia telah menaklukkan lautan. Seperti itulah nenek moyang kita, nenek moyang bangsa Indonesia yang mungkin sudah hampir terlupakan. Mereka juga menjadi penakluk dua samudra terbesar di dunia, samudra pasifik dan samudra hindia. Mereka membekali diri mereka dengan perbekalan secukup-sukupnya untuk kemudian mengarungi lautan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Mereka memilih laut yang sarat dengan mara bahaya sebagai tempat tinggal mereka. Untuk hal ini, dibutuhkan keberanian yang sangat tinggi dan bahkan sangat memacu adrenaline untuk menentukan keputusan-keputusan untuk menyambung hidup di tengah-tengah laut.
Artinya, nenek moyang kita (Indonesia) telah memiliki semangat itu. Sebuah semangat yang tidak takut akan mara bahaya. Sebuah semangat yang tidak akan ada bandingnya jika di bandingkan dengan kaum intelektual Indonesia sekarang. Kebanyakan dari orang Indonesia sekarang sangat takut untuk mengambil resiko, walaupun itu hanya kecil. Lalu kemana perginya semangat keberanian para nenek moyang kita, ketika mereka akan mengarungi laut dan mereka tahu resikonya?
Seorang pelaut tentunya tidak bisa tergatung dengan pelaut – pelaut yang lain. Karena kalau itu terjadi, maka pelaut itu akan mati di tengah lautan diterkam oleh seramnya laut yang maha luas. Di sini, sangat dibutuhkan kemandirian. Kemandirian seorang pelaut akan terbukti jikalau ia pulang dari laut membawa bekalan untuk keluarganya dan pastinya ia tidak mati.
Kemandirian nenek moyang kita yang satu ini tidak satupun dari cucu-cucunya yang mewarisinya. Kalau kita lihat lagi keadaan Indonesia sekarang, kemandirian itu sudah hampir tidak ada. Dari Indonesia merdeka sampai sekarang, Indonesia masih saja terlibat hutang dengan negera lain. Indonesia selalu hidup dalam tekanan dan kungkungan negara lain. Sedangkan nenek moyang kita (Indonesia) telah mewariskan sebuah kemandirian yang tiada taranya. Kalau begitu, cucu-cucunya tidak mampu untuk mandiri?
Seorang pelaut sejati pastinya tidak akan pernah melakukan hal-hal yang merugikan awak kapalnya. Malahan mereka (pelaut itu) tentunya dan akan selalu tolong menolong, bahu membahu dan membagi hasil yang diperoleh sesuai dengan job kerja masing-masing. Siapapun pelautnya, bahkan bajak laut sekalipun yang lebih dikenal sebagi parasit lautan akan memberlakukan hal yang sama terhadap anggotanya. Mereka tidak akan saling hasat, dengki, dan iri. Tetapi malah sebaliknya, saling asih dan salin asuh. Apa tujuannya? Tujuannya tentunya tidak lain dan tidak bukan adalah untuk kemaslahatan bersama, kemaslahatan kapten kapal dengan awak kapalnya.
Semangat yang satu ini lagi-lagi tidak diwarisi oleh keturunannya (rakyat Indonesia). Pada saat ini, sangat jarang sekali kita dengar kalau pemimpin kita (Indonesia) mau menyantuni rakyatnya dengan merelakan gajinya di potong. Jangankan dipotong, untuk gaji tetap saja (tidak naik dan tidak turun) mereka tidak terima. Malahan mereka meminta kenaikan gaji dan minta fasilitas lainnya dengan dalih untuk rakyat, padahal mereka tahu, rakyatnya tengah berada dalam garis kemiskinan.
Dalam setiap pemilihan umum, para calon akan selalu berusaha untuk menjatuhkan lawannya dengan berbagai cara. Apakah itu dengan sabotase suara hasil pemilihan, atau dengan cara politik kotor seperti money politik atau mungkin lebih buruk dari itu.
Antara pimpinan dan bawahan sangat jarang sekali kita dengar mereka saling asuh. Malahan yang terjadi saat ini adalah saling hujat. Padahal mereka katanya sama-sama pemikir yang memikirkan rakyat.
Seorang kapten kapal, dia selalu memberikan stimulan kepada awaknya melalui kearifan dan menunjukkan kepribadian yang sangat baik dan patut dicontoh bagi awak kapalnya. Karena sang kapten selalu memberikan contoh yang baik, maka si awak kapalpun akan mencoba melakukan yang terbaik, bahkan untuk membela sang kapten, jangankan harta, nyawa sekalipun diprtaruhkan untuk keselamatan kaptennya. Bagi sang awak, kaptennya adalah gurunya.
Kita lihat realita sekarang, hanya sedikit pemimpin bangsa ini yang memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya. Sesuai dengan pepatah Indonesia “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” maka hal itu sangat sesuai bagi realitas kebangsaan kita saat ini. Kasarnya, kalau pimpinan korupsi 1 miliyar, maka bawahan akan korupsi 10, 100, 200 milyar atau lebih dari itu. Kenapa hal ini terjadi, karena itulah contoh yang diterima dari pemimpin mereka. Atau sesuai dengan anegdot yang berkembang tentang pepatah tersebut “Guru kencing berdiri, Murid mengencingi Guru” artinya, saling hujat meng-hujat antara atasan dan bawahan sudah menjadi budaya baru bagi bangsa ini.
Nenek moyang kita telah mewariskan semangat yang sangat mengagumkan bagi kita. Tetapi kemudian semangat itu dilupakan dan dicampakkan oleh cucu-cucunya. Sesuatu yang sangat memalukan kiranya kalau kita masih mengakui nenek moyang kita (bangsa Indonesia) adalah seorang pelaut, sedangkan kita tidak mewarisi apa yang telah diwariskannya. Lebih baik kita tukar saja lirik lagu itu menjadi “nenek moyang ku seekor monyet….” kenapa demikian, karena saat ini kita tidak mewarisi semangat seorang pelaut, malahan semangatnya Monyet.

One response to “NENEK MOYANGKU SEORANG PELAUT

  1. Justru itu, saya dkk. di kampus yang meminati strategi pertahanan Indonesia, selalu “meneriakkan” agar strategi pertahanan kita (Indonesia) harus bertumpu di pertahanan laut. Itu harus dikembangkan mengingat 70% dari wilayah kita adalah laut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s