Penentuan Tingkat Suku Bunga

Kebijaksanaan moneter bank sentral sedemikian besar hingga merupakan faktor penentu dari kestabilan perekonomian keseluruhan. Aliran moneter – yang dikenal sebagai Mazhab-Monetaris – menganggap peran uang sedemikian unik dan strategis, hingga kebijaksanaan moneter diberi kedudukan dominan, sedang kebijaksanaan fiskal dinomor duakan saja.


Kebijaksanaan moneter menentukan tingkat suku bunga dapat ditamsilkan dengan kebijaksanaan BULOG menentukan tingkat harga beras. Dalam kaitan ini BULOG tersendiri menentukan patokan harga beras berdasarkan pertimbangan-makro perihal kepentingan petani dan pembangunan sektor pertanian serta biaya hidup perkotaan, unsur-unsur pertimbangan mana tidak termasuk dalam benak pedagang-pedagang pencari laba.


Demikianlah tamsilan tadi berkata, bahwa BI juga mutlak harus menentukan patokan suku bunga makro untuk mencegah gejolak dan
distorsinya oleh persaingan bank.


Terbentuknya Tingkat suku bunga


Kebijaksanaan moneter selalu ditujukan dan dipusatkan untuk mengatur
dan mengawasi jumlah M yang sesuai dengan pertumbuhan dan pembangunan
ekonomi. Bila M terlalu banyak, maka inflasi akan mengancam, sedang
bila terlalu sedikit resesi akan timbul. Namun penentuan M tadi tidak segampang kedengarannya.


Teori moneter akan berkata bahwa M ditentukan BI berdasarkan rumus M =
mH, di mana m = multiplier dan H = high powered money atau uang
primer.

Bila M ditambah BI – karena kenaikan gaji, ekspor dan lain-lain – maka pertambahan tersebut harus cocok dan seimbang dengan pertambahan permintaan masyarakat atas keperluan likuiditas (L). Pertambahan likuiditas tersebut diperlukan untuk tambahan transaksi, uang jaga-jaga dan untuk spekulasi. Naiknya likuiditas tersebut pada gilirannya mendorong tingkat suku bunga (i) untuk turun yang selanjutnya mendorong naiknya Investasi (I) dan Savings (S) yang kemudian menimbulkan kenaikan Pendapatan Nasional (Y).


Bila tercipta keseimbangan M dan L, hingga M = L, maka itu menandakan apa yang dikenal sebagai keseimbangan sektor moneter atau keseimbangan pasar finansial. Keseimbangan bersangkutan mengandung arti, bahwa suplai uang, tidak lebih dan tidak kurang, tapi sesuai jumlahnya dengan yang diperlukan masyarakat sebagai likuiditas.


Demikian juga bila I seimbang dengan S, yakni I = S, maka timbullah apa yang dikenal sebagai keseimbangan sektor riil atau keseimbangan sektor barang-barang.


Keseimbangan perekonomian atau keseimbangan Y tercipta, bilamana sektor moneter seimbang dengan sektor riil. Keseimbangan kedua sektor tersebut terjadi dengan dan pada SATU tingkat suku bunga tertentu. Bila suku bunga lebih tinggi atau lebih rendah dari (i) yang satu tadi, maka itu pertanda dari masih adanya gangguan dalam bentuk gejolak dan distorsi investasi, savings, supply uang dan permintaan likuiditas.


Dalam uraian contoh di atas terlihat bahwa pertambahan M dilakukan otonom oleh BI, sedang perubahan (i) berlangsung endogen: didorong oleh kekuatan ekonomi sendiri.

Bila BI memilih dan menentukan secara otonom tingkat suku bunga (i), maka I cenderung didorong menurun, yang pada gilirannya menurunkan Pendapatan Nasional (Y) yang cenderung mendorong permintaan likuiditas masyarakat untuk berkurang dan akan disertai oleh menurunnya – secara endogen – suplai M oleh BI.


Baik secara eksogen (otonom) maupun endogen, perubahan M atau (i) berlangsung dalam model-moneter yang secara ringkas dijelaskan tadi dan atas dasar itulah penentuan M dan (i) berada sepenuhnya dalam tangan BI sebagai pelaksana kebijakan moneter. Seperti telah dicontohkan tadi, terlihat bahwa BI bisa mengambil inisiatif secara otonom – dan menjadi kekuatan eksogen – menentukan (i) dan membiarkan M berkembang semaunya secara endogen atau sebaliknya BI bisa langsung menambah M secara otonom dan membiarkan (i) bergerak semaunya secara endogen. Ini berarti tersedianya pilihan 2 target-moneter dalam BI menegakkan keseimbangan ekonomi, yaitu (1) menentukan volume M, atau (2) menentukan tingkat (i), tapi tidak boleh menentukan kedua-duanya sekaligus dan simultan. Dengan kata lain: Jika BI memilih (i) sebagai target, maka M dibiarkan berkembang semaunya menurut M = mH, sedang bila direncanakan M sebagai target, maka (i) dibiarkan berkembang endogen.

About these ads

One response to “Penentuan Tingkat Suku Bunga

  1. Ping-balik: Penentuan Suku Bunga - Sumber Referensi Online | Sumber Referensi Online·

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s